Pariaman, Rakyatterkini.com - Pemko Pariaman kembali memperkuat kerja sama di bidang pendidikan tinggi dengan menggelar audiensi bersama Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI) di Kampus UI, Depok, Jawa Barat.
Pertemuan tersebut menjadi upaya untuk melanjutkan sinergi yang sempat terhenti sekaligus memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat kurang mampu melalui Program Satu Keluarga Satu Sarjana (Saga Saja) Plus.
Rombongan Pemko Pariaman dipimpin langsung oleh Wali Kota Pariaman Yota Balad, didampingi Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Hertati Taher, Kepala Dinas PUPRP Deki Asar, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Mulyadi, Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Nonformal Haris Mendra, serta Kepala Bidang Bina Marga Hendy Mavis.
Yota Balad memaparkan perkembangan Program Saga Saja Plus yang bertujuan membuka kesempatan lebih luas bagi putra-putri dari keluarga kurang mampu untuk menempuh pendidikan diploma maupun sarjana.
Melalui program tersebut, peserta yang memenuhi syarat akademik dan administrasi memperoleh bantuan biaya pendidikan hingga menyelesaikan studi.
Menurut Yota, di bawah kepemimpinannya bersama Wakil Wali Kota Mulyadi, Program Saga Saja Plus tidak hanya difokuskan pada pemberian akses kuliah, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa melalui pembekalan keterampilan praktis.
Mahasiswa yang memasuki semester akhir direncanakan mengikuti pelatihan agar lebih siap memasuki dunia kerja maupun membangun usaha secara mandiri setelah lulus.
Ia menegaskan, kemitraan dengan perguruan tinggi merupakan bagian penting dari strategi pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Mahasiswa asal Pariaman yang menempuh pendidikan di Universitas Indonesia dinilai mampu menunjukkan prestasi akademik yang baik, dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) di atas 3,00.
Yota juga menjelaskan bahwa program pengiriman mahasiswa asal Pariaman ke UI sempat terhenti sekitar dua tahun. Hal tersebut dipengaruhi oleh penyesuaian struktur organisasi, penguatan koordinasi antarlembaga, kemampuan anggaran daerah, hingga penyempurnaan mekanisme pembiayaan pada tahap pendaftaran seleksi masuk perguruan tinggi.
Meski demikian, ia optimistis kerja sama tersebut dapat kembali berjalan melalui komunikasi yang lebih intensif sehingga mampu memberikan manfaat lebih besar bagi generasi muda Kota Pariaman.
Selama ini, Pemko Pariaman memberikan bantuan berupa pembayaran uang kuliah tunggal (UKT) dan biaya hidup setelah peserta dinyatakan diterima sebagai mahasiswa. Namun, biaya pendaftaran dan proses seleksi awal masih menjadi tanggungan calon mahasiswa beserta keluarganya.
Yota mengungkapkan, pada pelaksanaan program sebelumnya, Pemko Pariaman memperoleh hibah sebesar Rp50 juta dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Sumatera Barat. Dana tersebut digunakan untuk membantu biaya pendaftaran 100 calon mahasiswa dari keluarga kurang mampu, dengan 10 peserta terbaik berhasil diterima di Program Pendidikan Vokasi UI.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Program Pendidikan Vokasi UI Safrin Arifin menyatakan akan membawa usulan Pemko Pariaman terkait kendala biaya pendaftaran kepada pihak universitas, khususnya unit yang menangani penerimaan mahasiswa baru.
Menurutnya, langkah tersebut bertujuan membuka peluang pemberian keringanan biaya, dukungan dari donatur, maupun pemanfaatan dana abadi bagi calon mahasiswa berprestasi yang memiliki keterbatasan ekonomi.
Selain itu, Vokasi UI juga mendorong calon mahasiswa asal Pariaman memanfaatkan jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) maupun Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Kedua jalur tersebut dinilai memberikan kesempatan lebih besar bagi calon mahasiswa kurang mampu melalui program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) dan penyesuaian besaran UKT sesuai kondisi ekonomi keluarga.
Safrin menegaskan bahwa proses penerimaan mahasiswa tetap mengacu pada standar akademik Universitas Indonesia tanpa membatasi kuota berdasarkan daerah asal. Dengan demikian, seluruh peserta yang memenuhi persyaratan memiliki peluang yang sama untuk diterima.
Pertemuan itu juga membahas peluang pengembangan kerja sama di bidang peningkatan keterampilan mahasiswa, penyelenggaraan program studi yang sesuai kebutuhan daerah, serta penguatan kualitas sumber daya manusia agar selaras dengan kebutuhan dunia kerja dan pembangunan Kota Pariaman.
Sebagai tindak lanjut, Pemko Pariaman dan Program Pendidikan Vokasi UI sepakat mengaktifkan kembali komunikasi dan kerja sama pengiriman mahasiswa utusan daerah yang sebelumnya sempat terhenti.
Pemko Pariaman akan memperkuat proses seleksi dan pendampingan calon mahasiswa, sedangkan Vokasi UI akan membantu membuka akses penerimaan serta mencari alternatif dukungan pembiayaan di tingkat universitas.
Melalui kolaborasi tersebut, kedua pihak berharap dapat mewujudkan sistem pendidikan yang lebih inklusif sekaligus melahirkan lulusan yang kompeten, adaptif, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Kota Pariaman. (da*)


