Padang, Rakyatterkini.com - Pengenalan sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama libur sekolah memunculkan anggapan bahwa berhentinya distribusi bahan pangan untuk program tersebut menjadi penyebab turunnya harga sejumlah kebutuhan pokok di pasaran. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa pengaruhnya tidak merata pada seluruh komoditas.
Hasil penelusuran di Pasar Raya Padang memperlihatkan harga berbagai bahan pangan dipengaruhi oleh beragam faktor. Pedagang buah, telur, minyak goreng, beras, cabai, sayuran, ayam, hingga daging sapi memiliki pandangan berbeda mengenai dampak penghentian sementara MBG.
Sebagian mengakui permintaan yang menurun membuat harga ikut terkoreksi, sementara yang lain menilai faktor utama tetap berada pada ketersediaan pasokan.
Silva (44), pedagang buah, mengatakan harga buah lokal masih relatif stabil. Menurutnya, perubahan lebih terlihat pada jumlah stok dibandingkan harga jual.
Saat MBG berjalan, persediaan buah cepat habis karena permintaan tinggi. Sebaliknya, ketika program dihentikan sementara, stok menjadi lebih banyak.
Pendapat serupa disampaikan Suci (25). Ia mengungkapkan bahwa selama MBG berlangsung, harga beberapa jenis buah seperti pepaya sempat naik karena pembelian dalam jumlah besar langsung dilakukan dari kebun.
Akibatnya, pedagang harus membeli dengan harga lebih tinggi. Kini harga pepaya kembali turun menjadi sekitar Rp8.000 per buah, bahkan bisa mencapai Rp7.000 saat pasokan melimpah. Sebelumnya, harga sempat menyentuh Rp10.000 per buah.
Sementara itu, pedagang jeruk Gadhi (23) menilai program MBG tidak terlalu memengaruhi usahanya karena telah memiliki pelanggan tetap. Menurutnya, kenaikan harga saat MBG berlangsung lebih disebabkan meningkatnya permintaan, yang merupakan kondisi pasar yang wajar.
Perubahan harga paling mencolok terjadi pada komoditas telur. Eni (58), pedagang telur, mengatakan harga telur ayam kini berada di kisaran Rp40.000 per papan, turun dari Rp54.000 hingga Rp55.000 ketika MBG masih berjalan.
Penurunan juga terjadi pada telur puyuh yang kini dijual sekitar Rp250 per butir, dari sebelumnya sekitar Rp500 per butir. Ia memperkirakan harga akan kembali naik ketika aktivitas sekolah dimulai dan program MBG kembali berjalan.
Hal senada diungkapkan Madhi (40). Ia menyebut harga telur puyuh saat ini sekitar Rp35.000 per rak, sedangkan saat permintaan MBG tinggi bisa mencapai Rp40.000 hingga Rp45.000 per rak.
Pada komoditas cabai, Adek (30) mengatakan harga saat ini turun menjadi sekitar Rp35.000 per kilogram karena pasokan sedang melimpah. Saat program MBG berjalan, harga biasanya berada di kisaran Rp40.000 per kilogram karena permintaan meningkat.
Kondisi serupa juga dialami pedagang ayam. Afan (34) menyebut harga ayam kini sekitar Rp40.000 per ekor setelah sebelumnya sempat turun hingga Rp35.000. Ketika MBG berlangsung, harga ayam dapat mencapai Rp45.000 hingga Rp50.000 per ekor seiring meningkatnya kebutuhan.
Di sisi lain, tidak semua pedagang merasakan dampak dari penghentian sementara MBG. Rayhan (20), pedagang minyak goreng, mengatakan harga masih bertahan di kisaran Rp20.000 per kilogram tanpa perubahan berarti. Menurutnya, program MBG tidak memberikan pengaruh langsung terhadap komoditas tersebut.
Pedagang beras Pak Datuak (70) juga menyebut harga beras tetap stabil. Hal itu diperkuat oleh Yudisman (56) yang menjelaskan bahwa kebutuhan beras untuk MBG dipenuhi melalui jalur distribusi khusus sehingga tidak memengaruhi harga di pasar tradisional.
Untuk komoditas sayuran, pandangan pedagang masih beragam. Des menilai harga sayuran secara umum tetap normal meski beberapa jenis, seperti petai, mengalami kenaikan.
Sementara Refda mengatakan permintaan dari MBG memang sempat mendorong kenaikan harga beberapa sayuran muda, meski tidak terlalu signifikan dan tetap bergantung pada kondisi stok.
Berbeda dengan pedagang lainnya, Yes (54) menilai berkurangnya pembeli saat ini lebih disebabkan masyarakat yang sedang memprioritaskan kebutuhan menjelang tahun ajaran baru, seperti membeli perlengkapan sekolah anak, bukan karena penghentian program MBG.
Sementara itu, harga daging sapi justru mengalami kenaikan. Faisal (27) menjelaskan harga saat ini mencapai sekitar Rp150.000 per kilogram, naik dari kisaran normal Rp130.000 hingga Rp140.000 per kilogram.
Menurutnya, kenaikan tersebut dipicu terbatasnya pasokan sapi dan tidak berkaitan dengan penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis.(da*)


