Notification

×

Iklan

Kasus Dokter Icha, Terungkap Dugaan Tiga Kali Percobaan Bunuh Diri

Minggu, 05 Juli 2026 | 01:18 WIB Last Updated 2026-07-04T21:35:50Z

Dokter Icha, dokter jaga IGD RS Leona Kabupaten Timor Tengah Utara

Jakarta, Rakyatterkini.com– Penyelidikan atas meninggalnya dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau yang dikenal sebagai Dokter Icha kembali mengungkap fakta baru. 

Dokter muda tersebut diduga mengalami tekanan psikologis yang cukup berat hingga disebut pernah melakukan tiga kali percobaan bunuh diri sebelum akhirnya meninggal dunia.

Informasi tersebut disampaikan Ketua DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Kristo Efi, setelah menjalani pemeriksaan oleh penyidik kepolisian selama kurang lebih dua jam. Dalam pemeriksaan itu, Kristo menjawab 21 pertanyaan yang berkaitan dengan kunjungannya menemui almarhumah saat menjalani perawatan di rumah sakit.

"Saya dimintai keterangan karena pernah menjenguk beliau ketika dirawat di rumah sakit," ujar Kristo pada Sabtu (4/7/2026).

Kepada penyidik, Kristo mengaku menceritakan percakapannya dengan dr. Icha. Menurutnya, almarhumah sempat mengungkapkan bahwa kondisi mentalnya terguncang akibat tekanan yang diduga datang dari beberapa pihak, termasuk adanya dugaan intimidasi bernada keras dari seorang oknum anggota DPRD TTU.

Kristo menjelaskan, tekanan tersebut membuat Dokter Icha merasa seolah telah melakukan kesalahan fatal dalam menangani pasien. Padahal, berdasarkan pengakuan almarhumah, seluruh prosedur medis yang dilakukan telah mengikuti standar operasional (SOP) dan terlebih dahulu dikonsultasikan dengan dokter spesialis.

"Beliau merasa seakan-akan telah melakukan kesalahan besar, padahal menurut penuturannya semua tindakan sudah sesuai prosedur dan telah dikonsultasikan kepada dokter ahli," ungkap Kristo.

Tidak hanya itu, Kristo juga mengungkap bahwa dr. Icha pernah mengaku mengalami tekanan yang begitu berat hingga sempat mencoba mengakhiri hidupnya sebanyak tiga kali.

Mendengar pengakuan tersebut, Kristo mengatakan dirinya berusaha memberikan dukungan moral agar Dokter Icha tetap kuat menghadapi situasi yang dialaminya dan bisa kembali menjalankan tugas sebagai tenaga kesehatan.

"Saya saat itu meminta beliau tetap bersemangat karena masyarakat TTU masih membutuhkan pelayanan dari tenaga medis seperti beliau," katanya.

Selain memberikan dukungan, Kristo menyebut dirinya telah menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga almarhumah atas nama lembaga DPRD TTU terkait peristiwa yang terjadi.

Meski demikian, Kristo menegaskan bahwa dr. Icha tidak pernah menyebut secara spesifik siapa pihak yang diduga memberikan tekanan. Almarhumah hanya menceritakan adanya protes yang disampaikan dengan nada tinggi mengenai penanganan pasien.

Di sisi lain, Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) kini mengambil alih penanganan perkara tersebut. Polda NTT membentuk tim investigasi gabungan (joint investigation) untuk menelusuri dugaan intimidasi yang dialami dr. Icha sebelum meninggal dunia.

Kepala Bidang Humas Polda NTT, Kombes Pol Henry Novika Chandra, menjelaskan bahwa pembentukan tim gabungan bertujuan memastikan proses penyelidikan berlangsung secara profesional, objektif, serta didasarkan pada bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Tim investigasi itu terdiri dari personel Direktorat Reserse Kriminal Umum, Direktorat PPA dan PPO, Direktorat Reserse Kriminal Khusus, Polres TTU, hingga Polres Kupang. Penyelidikan juga akan melibatkan sejumlah ahli, mulai dari pakar hukum pidana, psikologi, grafologi, hingga kedokteran forensik.

Dalam proses pendalaman kasus, penyidik dijadwalkan memeriksa kembali para saksi serta meneliti berbagai barang bukti elektronik guna mengungkap secara menyeluruh perkara yang kini menjadi perhatian luas masyarakat.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update