Jakarta, Rakyatterkini.com – Ketegangan antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan Arab Saudi kembali meningkat. Houthi mengklaim telah meluncurkan serangan rudal ke wilayah Saudi setelah Riyadh melakukan operasi militer terhadap sejumlah sasaran yang disebut berkaitan dengan kelompok tersebut di Yaman.
Berikut lima penyebab utama yang melatarbelakangi eskalasi konflik antara Houthi dan Arab Saudi:
1. Serangan Houthi ke Wilayah Jizan, Arab Saudi
Pada Sabtu pagi, media resmi Houthi, Ansarollah, menyampaikan melalui Telegram bahwa serangan rudal dari Yaman menyebabkan kebakaran di wilayah Jizan, Arab Saudi. Pemerintah Saudi kemudian mengeluarkan peringatan darurat bagi masyarakat di provinsi tersebut.
Serangan itu disebut sebagai respons atas serangan udara Arab Saudi terhadap fasilitas yang diduga milik Houthi di kawasan pelabuhan Hodeida, Yaman, serta Pulau Kamaran pada Jumat sebelumnya.
Aksi tersebut terjadi ketika kawasan Timur Tengah tengah mengalami penurunan intensitas serangan udara antara Amerika Serikat dan Iran setelah berlangsung selama dua pekan.
2. Ketegangan Akibat Serangan terhadap Kapal Saudi di Laut Merah
Konflik semakin membesar setelah Houthi sebelumnya menyatakan akan melakukan blokade laut terhadap Arab Saudi serta menyerang kapal-kapal yang berkaitan dengan negara tersebut di kawasan Laut Merah.
Serangan Saudi terhadap target militer Houthi kemudian memicu reaksi keras dari kelompok tersebut. Houthi menilai tindakan Riyadh sebagai bentuk peningkatan konflik dan memperingatkan bahwa serangan tersebut tidak akan dibiarkan tanpa balasan.
Situasi ini membuka babak baru dalam ketegangan kawasan, di tengah meningkatnya tekanan akibat konflik Iran dan isu keamanan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz.
Melalui pernyataannya, Ansarollah menyebut serangan Saudi terhadap fasilitas sipil di Hodeida dan Pulau Kamaran sebagai tindakan berbahaya yang akan mendapatkan respons.
3. Peluncuran Rudal Balistik dari Yaman
Arab Saudi dilaporkan berhasil mencegat dua rudal balistik yang ditembakkan dari wilayah Yaman. Rudal tersebut diduga mengarah ke fasilitas minyak di Yanbu, wilayah barat Saudi.
Sistem pertahanan udara yang digunakan untuk menghentikan serangan tersebut disebut melibatkan perangkat milik Yunani yang ditempatkan di Arab Saudi.
Sebelumnya, otoritas Saudi telah mengeluarkan peringatan kepada warga di Jizan dan Yanbu setelah Houthi menyatakan akan membalas serangan militer yang dilakukan kerajaan tersebut.
4. Rencana Blokade Laut Merah oleh Houthi
Juru bicara Houthi, Mohammed Abdulsalam, menyebut langkah blokade laut terhadap Arab Saudi sebagai bagian awal dari strategi yang disebut sebagai "blokade melawan blokade".
Ia menuduh Riyadh menggunakan tekanan militer dan ekonomi setelah konflik panjang di Yaman selama delapan tahun. Menurutnya, Arab Saudi berupaya menutup kerugian akibat perang melalui tindakan ekonomi terhadap lawannya.
Houthi juga menuding Saudi memperluas konflik dengan menyerang sejumlah wilayah seperti Hodeida, Pulau Kamaran, dan Bandara Sanaa. Kelompok tersebut memperingatkan setiap serangan terhadap Yaman akan mendapatkan balasan.
5. Berlanjutnya Konflik Amerika Serikat dan Iran
Di sisi lain, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung. Militer AS belum mengumumkan serangan baru terhadap Iran pada Sabtu, setelah sebelumnya melakukan operasi selama 13 malam berturut-turut.
Dalam periode tersebut, Iran juga disebut melancarkan serangan drone terhadap sejumlah fasilitas dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Sementara itu, delegasi Oman tiba di Teheran untuk membahas situasi di Selat Hormuz. Oman diketahui memiliki wilayah pesisir yang berbatasan dengan jalur laut strategis tersebut.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pihaknya masih membuka peluang negosiasi, namun tetap memperingatkan bahwa opsi militer masih tersedia.
"Kami siap bertindak dan siap menghadapi situasi apa pun," ujar Trump dalam keterangannya.
Sebelumnya, militer AS juga mengklaim telah melumpuhkan sebuah kapal tanker di Teluk Oman yang diduga berusaha melewati blokade terhadap pelabuhan Iran. Kapal tersebut menjadi kapal komersial kedua yang dihentikan Amerika Serikat sejak kebijakan blokade diberlakukan kembali.
Komando Pusat AS menyatakan kapal itu dilumpuhkan setelah awak kapal disebut beberapa kali mengabaikan peringatan dan berupaya menerobos pembatasan yang diberlakukan.(da*)


