Notification

×

Iklan

Harga Minyak Dunia Turun Usai AS Hentikan Serangan ke Iran

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:43 WIB Last Updated 2026-07-28T08:43:00Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com - Harga minyak dunia mengalami penurunan signifikan setelah Amerika Serikat (AS) memutuskan menghentikan sementara operasi militernya terhadap Iran. Keputusan tersebut memunculkan optimisme bahwa ketegangan di Timur Tengah mulai mereda dan peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi semakin terbuka.

Berdasarkan laporan BBC, harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan pasar global turun 1,77 persen menjadi 86,59 dolar AS per barel pada Selasa (28/7/2026). Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya ketika harga Brent sempat menembus 100 dolar AS per barel akibat meningkatnya konflik di kawasan.

Penurunan harga dipicu pernyataan Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengungkapkan bahwa serangan terhadap Iran telah dihentikan selama dua malam berturut-turut sebagai bagian dari upaya memberi ruang bagi proses negosiasi.

Sementara itu, pihak militer Iran juga menyampaikan bahwa Teheran telah menghentikan aksi balasan di kawasan tersebut, sehingga meningkatkan harapan akan meredanya eskalasi konflik.

Sebelumnya, perang antara AS dan Iran memicu lonjakan harga minyak dunia lantaran terganggunya aktivitas di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Pada Juni lalu, kedua negara sempat menyepakati nota kesepahaman untuk menghentikan operasi militer dan membuka kembali Selat Hormuz. Kesepakatan tersebut membuat harga minyak kembali turun ke kisaran 70 dolar AS per barel, mendekati level sebelum konflik pecah.

Namun, kegagalan mempertahankan gencatan senjata pada awal bulan ini kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Akibatnya, harga Brent kembali melonjak hingga mencapai 100 dolar AS per barel, level tertinggi sejak Mei.

Kenaikan harga juga dipengaruhi serangan kelompok Houthi di Yaman terhadap kapal tanker di Laut Merah yang mengancam jalur ekspor minyak Arab Saudi, salah satu rute alternatif selain Selat Hormuz.

Meski harga minyak mulai melemah, Kepala Strategi Investasi Wealth Club, Susannah Streeter, menilai pelaku pasar masih bersikap waspada. Menurutnya, situasi di Timur Tengah masih sangat dinamis sehingga risiko gejolak harga tetap tinggi.

Ia menambahkan, penurunan harga minyak belum sepenuhnya menghapus ketidakpastian karena belum ada jaminan bahwa proses perundingan akan menghasilkan perdamaian yang bersifat permanen.

Selain minyak, harga gas alam grosir juga mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir. Laporan Wood Mackenzie menyebutkan bahwa cadangan gas Eropa kini berada pada titik terendah sepanjang sejarah, sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan saat musim dingin.

Lembaga tersebut memperkirakan apabila Selat Hormuz tetap tertutup selama dua bulan ke depan, tingkat penyimpanan gas Eropa pada 1 November hanya akan berada di bawah 70 persen. Angka itu jauh di bawah rata-rata lima tahun terakhir yang mencapai sekitar 90 persen pada periode yang sama.

Konflik antara AS dan Iran turut berdampak pada kenaikan harga bahan bakar seperti bensin dan solar di berbagai negara. Peningkatan biaya energi tersebut berpotensi mendorong naiknya harga berbagai kebutuhan, termasuk pangan, karena pelaku usaha cenderung membebankan biaya tambahan kepada konsumen.

Apabila kondisi tersebut terus berlanjut, tekanan inflasi diperkirakan akan meningkat dan membuka peluang bagi bank-bank sentral untuk kembali menaikkan suku bunga demi mengendalikan laju kenaikan harga.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update