Jakarta, Rakyatterkini.com – Antrean panjang kendaraan untuk mengisi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar masih terjadi di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Pelalawan, Riau. Sejumlah sopir truk bahkan mengaku harus menunggu hingga dua hari agar bisa memperoleh solar subsidi.
Berdasarkan pantauan di tiga SPBU yang berada di Kecamatan Pangkalan Kerinci pada Kamis (2/7/2026), antrean kendaraan tampak mengular hingga ratusan meter. Di salah satu SPBU yang berada di pusat Kota Pangkalan Kerinci, panjang antrean diperkirakan mencapai sekitar 500 meter dan didominasi bus karyawan milik perusahaan bubur kertas PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP).
Rudi, salah seorang sopir truk, mengatakan hampir seluruh SPBU di wilayah Pangkalan Kerinci mengalami kondisi serupa, khususnya untuk pengisian solar bersubsidi. Menurutnya, di beberapa SPBU yang berada di pinggiran kota, kendaraan pribadi pun kesulitan mendapatkan solar karena antrean dipenuhi kendaraan operasional industri, seperti dump truk pengangkut batu bara dan truk trailer.
"Semua SPBU penuh antrean," ujar Rudi.
Sementara itu, Manajer SPBU di Jalan Koridor PT RAPP Kilometer 5, Kelurahan Kerinci Barat, Habib, mengungkapkan bahwa antrean panjang sudah berlangsung sekitar dua pekan terakhir. Meski demikian, ia memastikan pasokan solar subsidi dari Depot Pertamina Dumai masih diterima secara normal dengan kuota sekitar 60 ton setiap hari.
Habib mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab meningkatnya antrean tersebut. Menurutnya, stok BBM di SPBU yang dikelolanya hingga kini masih dalam kondisi aman.
Keluhan serupa disampaikan Tambrin, sopir truk pengangkut batu bara. Ia mengaku telah menginap selama dua hari untuk memperoleh jatah pengisian sebanyak 200 liter solar subsidi di SPBU PT Jawara Energi Semesta yang berada di Jalan Lintas Timur Kilometer 63, Kelurahan Kerinci Timur.
"Sudah dua hari menunggu," kata Tambrin.
Ia menuturkan antrean panjang tidak hanya terjadi di Pelalawan. Selama perjalanan mengangkut batu bara dari Sarolangun, Jambi, menuju pabrik PT RAPP di Pelalawan, kondisi serupa juga ditemui di sejumlah SPBU di sepanjang Jalan Lintas Timur.
Di sisi lain, Manajer SPBU PT Jawara Energi Semesta, Joko Widodo, menjelaskan bahwa penumpukan kendaraan dipicu keterlambatan distribusi solar dari Depot Pertamina Dumai. Akibatnya, kendaraan yang datang untuk mengisi BBM terus bertambah sebelum pasokan baru tiba.
Menurut Joko, antrean didominasi kendaraan berat seperti dump truk batu bara dan truk trailer. Padahal, berdasarkan ketentuan Pertamina, kendaraan jenis tersebut seharusnya menggunakan BBM industri. Namun, pihak SPBU tetap melayani pengisian karena kendaraan-kendaraan tersebut telah memiliki barcode resmi yang diterbitkan Pertamina.
Hingga saat ini, antrean panjang solar subsidi masih berlangsung di sejumlah SPBU di Kabupaten Pelalawan. Kondisi tersebut dikeluhkan para pengemudi yang bergantung pada ketersediaan BBM untuk menjalankan aktivitas dan pekerjaannya.(da*)


