Pariaman, Rakyatterkini.com – Rangkaian prosesi dalam event “Pesona Budaya Hoyak Tabuik Piaman 2026” mengalami sedikit perubahan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Salah satu yang menjadi sorotan adalah prosesi kedua, yakni “Manabang Batang Pisang” atau kegiatan menebang batang pisang.
Tradisi ini dilakukan dengan satu kali tebasan dan oleh masyarakat Pariaman dimaknai sebagai lambang ketegasan pedang pasukan yang dipimpin Raja Yazid bin Muawiyah dalam peristiwa Perang Karbala, yang berkaitan dengan gugurnya Husein bin Ali, cucu Nabi Muhammad SAW.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman, Ferialdi, menjelaskan perbedaan utama pelaksanaan prosesi tahun ini dibandingkan sebelumnya terletak pada lokasi serta waktu pelaksanaannya.
Ia menyebutkan, jika pada tahun-tahun lalu kegiatan tersebut digelar di lokasi berbeda untuk Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang, yakni masing-masing di Kelurahan Alai Gelombang dan Kelurahan Lohong, maka pada tahun ini lokasi pelaksanaannya dipusatkan di Rumah Tabuik.
Lebih lanjut, Ferialdi menjelaskan “Manabang Batang Pisang” untuk Tabuik Pasa kini dilaksanakan di Rumah Tabuik Subarang setelah salat Ashar, sementara prosesi Tabuik Subarang digelar di Rumah Tabuik Pasa setelah salat Maghrib.
Perubahan lokasi tersebut, menurutnya, tetap mengikuti tradisi yang sudah ada sejak lama, yaitu saling bertukar tempat antara dua kelompok Tabuik.
Ini diyakini menjadi bagian dari rangkaian budaya yang juga memunculkan momen “basalisiah” atau pertemuan antara dua kubu, yakni anak Tabuik Pasa dan anak Tabuik Subarang.
Prosesi basalisiah sendiri biasanya digelar setelah salat Isya, sekitar pukul 20.00 WIB, di kawasan Simpang Kampung Cino atau Simpang Tabuik Pariaman.
Ferialdi menegaskan potensi gesekan dalam kegiatan tersebut sudah diantisipasi dengan melibatkan aparat keamanan agar acara tetap berlangsung tertib dan aman.
Ia juga menambahkan inti dari basalisiah bukanlah permusuhan, melainkan bagian dari tradisi yang bersifat simbolis. Setelah seluruh rangkaian Tabuik selesai dan dibuang ke laut, kedua kubu kembali bersatu tanpa menyimpan dendam.
Selain itu, ia menekankan pelaksanaan Tabuik tetap memperhatikan waktu ibadah. Setiap kali memasuki waktu salat, seluruh rangkaian kegiatan dihentikan sementara dan dilanjutkan kembali setelahnya.
Menurut Ferialdi, kegiatan budaya ini diharapkan dapat terus menjadi daya tarik wisata Kota Pariaman tanpa mengandung unsur yang bertentangan dengan nilai keagamaan, sehingga pelestarian tradisi tetap berjalan seiring dengan pengembangan pariwisata.(da*)


