Notification

×

Iklan

Mayoritas Warga Israel Sebut Iran Menang dalam Konflik

Senin, 22 Juni 2026 | 16:37 WIB Last Updated 2026-06-22T09:37:00Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com – Hasil survei terbaru di Israel terkait konflik dengan Iran menunjukkan pandangan publik yang cukup mengejutkan terhadap kinerja Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Mayoritas responden menilai kepemimpinannya dalam perang tersebut tidak memuaskan.

Survei yang dilakukan Universitas Ibrani Yerusalem dan dipublikasikan pada Minggu (21/6/2026) oleh media The Times of Israel mencatat, sebanyak 56,4 persen warga menilai kinerja Netanyahu “buruk” atau “gagal” dalam penanganan perang melawan Iran. Sementara itu, hanya 26,5 persen yang memberikan penilaian positif.

Temuan lainnya menunjukkan 72,5 persen responden tidak mempercayai klaim Netanyahu bahwa Israel memperoleh keuntungan besar serta berhasil menghilangkan ancaman eksistensial dari konflik tersebut. Bahkan, 92,1 persen responden beranggapan Iran justru keluar sebagai pihak yang memenangkan perang, sedangkan 82,9 persen menilai konflik ini berdampak negatif terhadap keamanan Israel dalam jangka panjang.

Selain itu, sekitar 87,8 persen responden meyakini Israel tidak berhasil mencapai tujuan utama perang, atau hanya mencapainya sebagian kecil saja. Dukungan publik terhadap Netanyahu sebagai perdana menteri juga turun menjadi 29,4 persen, merosot dibanding survei bulan Maret yang masih berada di angka 40,5 persen.

Di sisi lain, survei juga mengungkap 48,2 persen responden mendukung kemungkinan dilanjutkannya operasi militer besar terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon. Dukungan ini tetap tinggi meskipun terdapat risiko ketegangan dengan Amerika Serikat yang saat itu dipimpin oleh Donald Trump. Sementara itu, 20,9 persen menolak opsi tersebut, dan sisanya belum menentukan sikap.

Survei ini melibatkan 3.644 responden yang diambil pada periode 17–20 Juni.

Dalam perkembangan konflik, Israel dan Amerika Serikat sebelumnya melancarkan operasi militer bersama melawan Iran pada 28 Februari hingga 8 April, yang kemudian diakhiri dengan gencatan senjata yang diumumkan oleh Trump. Meski begitu, ketegangan kecil masih dilaporkan terjadi, terutama di wilayah Selat Hormuz.

Selanjutnya, Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 17 Juni yang dikenal sebagai MoU Islamabad, sebagai upaya meredakan konflik meski masih dinilai rapuh.

Kedua pihak juga melanjutkan pembicaraan di resor Bürgenstock, Swiss, dengan tujuan mencapai kesepakatan damai permanen, termasuk pembahasan terkait program nuklir Iran.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update