Notification

×

Iklan

Mahasiswa UNP Teliti Manuskrip Kuno di Lima Puluh Kota

Selasa, 02 Juni 2026 | 13:18 WIB Last Updated 2026-06-02T08:01:07Z

Sebanyak 120 mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI)

Padang, Rakyatterkini.com – Sebanyak 120 mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Padang (UNP), mengikuti kuliah lapangan Filologi Islam di Pusat Turats Ulama Minangkabau, Surau Istiqamah, Kabupaten Lima Puluh Kota. 

Berdasarkan keterangan resmi Kantor Komunikasi dan Pemasaran Strategis UNP, Senin (2/6/2026), kegiatan tersebut menitikberatkan pada kajian kodikologi, yaitu penelitian mendalam terhadap manuskrip kuno. 

Dalam praktik lapangan ini, mahasiswa diberi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan naskah-naskah Islam klasik yang tersimpan di pusat manuskrip tersebut.

Kuliah lapangan ini dibimbing oleh dosen pengampu mata kuliah Filologi Islam, Muhammad Yusuf dan Halomoan, dengan menghadirkan filolog Minangkabau, Buya Apria Putra, sebagai narasumber utama untuk memperkaya wawasan peserta.

Para mahasiswa yang berasal dari empat seksi kelas tersebut kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok penelitian. Pada hari pertama, kegiatan diikuti oleh 55 mahasiswa, sedangkan hari kedua sebanyak 65 mahasiswa. 

Masing-masing kelompok diminta mengkaji aspek kodikologi dari manuskrip yang dipilih, mulai dari kondisi fisik naskah, jenis aksara, struktur isi, hingga menelusuri sejarah penyalinannya.

Kegiatan ini tidak hanya bertujuan memenuhi tugas akademik, tetapi juga untuk memperdalam pemahaman mahasiswa mengenai tradisi intelektual Islam di Minangkabau serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian naskah kuno.

Dalam penyampaian materinya, Buya Apria Putra menegaskan bahwa filologi memiliki peran penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan karena berkaitan erat dengan warisan tulisan manusia.

“Filologi merupakan bagian penting dari ilmu pengetahuan, sebab pengetahuan diwariskan melalui tulisan. Karena itu, memahami tulisan menjadi hal yang sangat penting bagi seorang pelajar,” ungkapnya.

Ia juga menjelaskan bahwa teks keislaman secara umum terbagi menjadi dua kategori, yaitu matbu’ah (buku cetak) dan makhtutah (naskah tulisan tangan peninggalan masa lalu) yang perlu dikaji serta dilestarikan melalui disiplin filologi atau tahqiq an-nusus.

Sosok Buya Apria Putra dikenal aktif dalam upaya pelestarian manuskrip ulama. Filolog kelahiran Mungo, Kabupaten Lima Puluh Kota, 1 April 1989 ini kerap melakukan penelusuran ke berbagai surau di Sumatra Barat untuk mengumpulkan naskah kuno.

Dari kegiatannya tersebut, ia telah menghimpun lebih dari 350 manuskrip, termasuk tulisan tangan, stempel kuno, ilustrasi, dan berbagai dokumen sejarah keagamaan. Seluruh koleksi itu kini dirawat di perpustakaan naskah Kutubkhanah Al-Asyirah An-Naqsyabandiyah.

Selain itu, ia juga aktif menulis di blog “Surau Tuo” yang berisi biografi serta jejak ulama-ulama besar Minangkabau agar tidak hilang ditelan zaman.

Sebagai luaran kegiatan, mahasiswa diminta menyusun katalog manuskrip secara sistematis yang nantinya akan diserahkan ke Laboratorium Pengkajian Islam dan Inovasi PAI, Departemen IAI UNP, sebagai arsip akademik.

Bagi mahasiswa, pengalaman berinteraksi langsung dengan naskah berusia ratusan tahun menjadi pembelajaran yang berkesan. Ivan Sentosa, salah satu peserta, menilai waktu pelaksanaan kegiatan masih perlu diperpanjang agar kajian dapat dilakukan lebih maksimal.

“Meneliti teks kuno tidak cukup hanya satu hari. Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk mengenal karya ulama terdahulu,” ujarnya.

Senada, mahasiswa lainnya, Farel, menyebut kuliah lapangan ini sebagai kesempatan penting untuk memahami warisan intelektual leluhur secara langsung.

“Melalui praktik ini kami belajar mengidentifikasi, membaca, dan menganalisis naskah kuno. Selain menambah pengetahuan, kegiatan ini juga melatih ketelitian, kesabaran, dan kerja sama,” katanya.

Ia juga mengaku mendapat kesan mendalam karena dapat belajar langsung dari Buya Apria Putra yang memberikan banyak wawasan selama kegiatan berlangsung.

Selain pembelajaran akademik, kegiatan ini juga mengajak mahasiswa memahami kembali peran surau dalam tradisi Minangkabau, yang tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, penyalinan naskah, dan diskusi intelektual. 

Melalui kegiatan ini, UNP berharap mahasiswa dapat menjadi generasi yang peduli dalam menjaga dan melestarikan manuskrip sebagai bagian penting dari sejarah peradaban Islam di Indonesia.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update