Notification

×

Iklan

Harga Minyak Turun Usai Sinyal Damai AS–Iran

Selasa, 23 Juni 2026 | 01:37 WIB Last Updated 2026-06-22T19:20:09Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com – Harga minyak global mengalami penurunan pada perdagangan Senin (22/6/2026). Pelemahan ini terjadi setelah Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, menyatakan adanya perkembangan positif dalam perundingan damai antara negaranya dengan Iran yang berlangsung di Swiss.

Mengutip CNBC International, harga kontrak berjangka minyak mentah Brent sebagai acuan global terkoreksi 2,4 persen ke level 78,64 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) juga turun 1,44 persen menjadi 75,50 dolar AS per barel.

JD Vance menyampaikan bahwa meski sempat diwarnai ketegangan dan perbedaan pandangan, proses dialog tetap berjalan dan menghasilkan kemajuan yang signifikan.

Di sisi lain, perwakilan mediator dari Qatar dan Pakistan mengungkapkan bahwa pihak Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati kerangka kerja atau peta jalan guna mencapai kesepakatan final dalam waktu sekitar 60 hari. Selain itu, kedua negara akan melanjutkan pembahasan teknis sepanjang pekan ini dan membentuk komite tingkat tinggi untuk mengawal jalannya proses mediasi.

Perkembangan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump sebelumnya melontarkan ancaman untuk kembali melakukan aksi militer terhadap Iran. Pernyataan tersebut sempat memicu kekhawatiran terkait keberlanjutan kesepakatan damai sementara yang masih rapuh dan baru dicapai pada pekan sebelumnya.

Ancaman tersebut disampaikan Trump pada Minggu, bertepatan dengan pertemuan antara JD Vance dan pejabat Iran di Swiss. Pertemuan itu juga dibayangi keputusan Teheran yang kembali menutup Selat Hormuz, jalur penting dalam distribusi minyak global.

Dialog yang digelar di kawasan resor Bürgenstock, Swiss, menjadi perundingan pertama sejak kedua negara menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik sekaligus memperpanjang gencatan senjata selama setidaknya 60 hari.

Kesepakatan tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz serta penghentian konflik di sejumlah wilayah, termasuk Lebanon. Namun, Iran menilai Amerika Serikat belum mampu menjamin pelaksanaan gencatan senjata di Lebanon dan menegaskan bahwa pembicaraan terbaru hanya difokuskan pada implementasi kesepakatan yang telah ada, bukan pada isu lain seperti program nuklir.

Sementara itu, Goldman Sachs menilai bahwa gangguan pasokan minyak yang berlangsung lama justru dapat mempercepat peralihan ke kendaraan listrik. Kondisi ini berpotensi menekan permintaan minyak mentah dalam jangka panjang serta meningkatkan risiko penurunan harga di masa depan.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update