Jakarta, Rakyatterkini.com – Dunia kini menghadapi ancaman serius terkait ketersediaan air bersih. Sejumlah pakar menyatakan situasi yang terjadi saat ini bukan lagi sekadar krisis, melainkan telah memasuki fase yang mereka istilahkan sebagai “kebangkrutan air bersih global”.
Dalam laporan terbaru, kondisi tersebut dijelaskan sebagai keadaan ketika tingkat pengambilan dan pencemaran air sudah melampaui kemampuan alam untuk memulihkan kembali sumber daya air secara alami. Pada tahap ini, pemulihan ke kondisi semula dinilai sangat sulit bahkan hampir tidak mungkin.
Selama beberapa dekade terakhir, isu air global umumnya dipandang sebagai krisis sementara yang masih bisa diatasi. Namun, situasi kini berubah karena banyak wilayah mengalami kekurangan air yang bersifat berkelanjutan, sehingga sistem hidrologi tidak lagi mampu kembali ke kondisi awalnya.
“Bagi sebagian besar wilayah di dunia, kondisi ‘normal’ itu sudah tidak ada lagi,” ujar Kaveh Madani, Direktur United Nations University Institute for Water, Environment and Health, di New York pada Januari 2026.
Menurutnya, istilah “kebangkrutan air” bukan dimaksudkan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan sebagai peringatan keras agar dunia lebih jujur melihat kegagalan dalam pengelolaan sumber daya air dan segera mengambil tindakan nyata.
Madani menegaskan tidak semua sistem air di dunia telah kolaps, namun banyak yang sudah berada dalam kondisi kritis atau mendekati kegagalan. Karena saling terhubung melalui perdagangan global, migrasi, hingga hubungan geopolitik, dampaknya bisa meluas dan mengubah peta risiko dunia secara signifikan.
Laporan berjudul “Global Water Bankruptcy: Living Beyond Our Hydrological Means in the Age Beyond Crisis” yang dirilis pada 20 Januari 2026 menyebutkan bahwa dunia telah melewati fase kekurangan air yang bersifat sementara dan kini memasuki tahap kegagalan sistemik.
Dalam kondisi ini, baik sistem air alami maupun buatan manusia tidak lagi mampu menyediakan pasokan seperti sebelumnya. Para peneliti juga menilai istilah seperti “krisis air” atau “tekanan air” sudah tidak cukup menggambarkan tingkat keparahan situasi saat ini.
Sejumlah sungai, danau, hingga akuifer di berbagai belahan dunia dilaporkan telah melewati batas kritis yang membuat pemulihan menjadi semakin sulit. Sekitar 70 persen akuifer utama global mengalami penurunan volume dalam jangka panjang akibat eksploitasi berlebihan untuk kebutuhan pertanian, industri, dan perkotaan.
Di sisi lain, pencairan gletser berlangsung semakin cepat. Meski dalam jangka pendek dapat menambah pasokan air, kondisi ini justru mengancam hilangnya sumber air tersebut secara permanen di masa depan.
Akibatnya, banyak sistem air kini berada dalam kondisi yang disebut “insolvensi struktural”, yaitu keadaan ketika pemulihan ke kondisi awal sudah tidak lagi realistis.
Dampaknya sudah dirasakan secara luas. Lebih dari empat miliar orang di dunia mengalami kelangkaan air parah setidaknya selama satu bulan setiap tahun. Hampir tiga perempat populasi global juga tinggal di negara dengan tingkat kerawanan air tinggi.
Wilayah yang bergantung pada irigasi dan air tanah menghadapi risiko besar, mulai dari naiknya harga pangan hingga terganggunya mata pencaharian masyarakat di pedesaan.
Kota-kota besar pun tidak luput dari ancaman. Pertumbuhan penduduk, infrastruktur yang menua, serta perubahan iklim membuat gangguan pasokan air semakin sulit diatasi hanya dengan langkah darurat.
Secara ekonomi, kerugiannya diperkirakan sangat besar. Kekeringan global disebut dapat menyebabkan kerugian hingga US$307 miliar atau sekitar Rp5.000 triliun setiap tahun.
“Jika kegagalan ini terus diperlakukan sebagai krisis sementara dengan solusi jangka pendek, maka kerusakan lingkungan akan semakin parah dan potensi konflik sosial akan meningkat,” tegas Madani.(da*)


