Lubuk Basung, Rakyatterkini.com – Bupati Agam, Benni Warlis, secara resmi membuka Rapat Koordinasi Lingkup Pertanian Kabupaten Agam yang digelar di Lubuk Basung, Rabu (17/6).
Kegiatan ini menjadi ajang penting untuk memperkuat koordinasi lintas sektor sekaligus merumuskan langkah strategis dalam mempercepat pemulihan sektor pertanian pascabencana, serta mendukung pencapaian swasembada pangan nasional.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Barat, Kepala Balai Penerapan Modernisasi Pertanian Sumatera Barat, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Agam beserta jajaran, serta para koordinator dan penyuluh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) se-Kabupaten Agam.
Dalam sambutannya, Bupati Benni Warlis menjelaskan bahwa bencana hidrometeorologi yang terjadi pada November 2025 telah menyebabkan kerusakan cukup signifikan pada sektor pertanian di Kabupaten Agam.
Kerusakan tersebut tidak hanya berdampak pada lahan pertanian dan usaha peternakan, tetapi juga pada infrastruktur pendukung serta alat dan mesin pertanian yang berperan penting dalam produksi.
“Dampak kerusakan ini telah menurunkan kapasitas produksi pertanian dan memberikan tekanan sosial ekonomi bagi para petani dan peternak. Namun kondisi ini tidak boleh membuat kita menyerah. Justru harus menjadi dorongan untuk memperkuat sinergi dalam membangkitkan kembali sektor pertanian,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya soal ketersediaan pangan, tetapi juga menyangkut kemampuan daerah menjaga keberlanjutan produksi di tengah ancaman bencana dan perubahan iklim.
Karena itu, menurutnya, proses rehabilitasi lahan, perbaikan infrastruktur, pemulihan sektor peternakan, optimalisasi alat dan mesin pertanian, serta penguatan pendampingan petani perlu dilakukan secara terpadu.
Bupati juga menyampaikan bahwa upaya pemulihan sektor pertanian di Kabupaten Agam mendapat dukungan besar dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian RI.
Melalui Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi, Kabupaten Agam memperoleh bantuan sekitar Rp29 miliar untuk program rehabilitasi dan optimalisasi lahan.
Bantuan tersebut telah dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, di antaranya rehabilitasi lahan sawah seluas 311 hektare, perbaikan infrastruktur optimasi lahan 387 hektare, pembangunan 35 unit dam parit, 53 unit irigasi perpompaan, 27 unit irigasi perpipaan, rehabilitasi dua ruas jalan usaha tani, serta pemeliharaan 21 jaringan irigasi tersier.
Selain itu, tahap kedua optimasi lahan non-rawa seluas 1.000 hektare juga telah berjalan. Pemerintah pusat juga menyetujui tambahan rehabilitasi sawah seluas 250 hektare serta pemeliharaan 60 unit jaringan irigasi tersier.
Di sektor perkebunan, bantuan yang diterima mencakup bibit kayu manis, tebu, kopi robusta, perluasan kopi arabika, peremajaan dan perluasan kelapa dalam, hingga program dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit senilai Rp43 miliar untuk peremajaan sawit rakyat seluas 250 hektare.
Sementara itu, pada sektor tanaman pangan, Agam juga menerima bantuan benih padi dan jagung untuk wilayah terdampak bencana, program optimasi lahan, serta program reguler dan aspirasi. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat turut menyalurkan bantuan benih serta alat dan mesin pertanian pascapanen.
Untuk sektor hortikultura, dukungan pemerintah pusat dan provinsi diwujudkan melalui pengembangan komoditas cabai merah, kentang, bawang, durian, serta penyediaan sarana dan prasarana pascapanen.
Bupati Benni Warlis menekankan bahwa keberhasilan seluruh program tersebut sangat bergantung pada kerja sama yang solid antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, penyuluh pertanian, serta seluruh pihak terkait di sektor pertanian.
“Dengan kolaborasi yang kuat, kita optimistis pemulihan sektor pertanian pascabencana dapat dipercepat, sekaligus mewujudkan pertanian Kabupaten Agam yang lebih maju, tangguh, dan berkelanjutan,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran penyuluh pertanian sebagai garda terdepan pembangunan pertanian di daerah.
Meski secara administrasi kepegawaian berada di bawah pemerintah pusat sesuai Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2025, penyuluh tetap menjadi mitra strategis Pemerintah Kabupaten Agam dalam mendampingi petani serta mengawal program pembangunan pertanian.
“Statusnya boleh berubah, tetapi pengabdian kepada petani di Kabupaten Agam harus tetap menjadi prioritas bersama,” tegasnya.
Di akhir sambutan, Bupati Agam secara resmi membuka Rapat Koordinasi Lingkup Pertanian tersebut dengan harapan dapat menjadi titik awal kebangkitan sektor pertanian daerah menuju swasembada pangan serta peningkatan kesejahteraan petani.(da*)


