Bukittinggi, Rakyatterkini.com – Istilah “Kota Perjuangan” yang disematkan kepada Bukittinggi dinilai sudah tepat dalam konteks sejarah perjuangan bangsa. Namun, sejarawan senior Prof. Anhar Gonggong menilai sebutan tersebut masih perlu dilengkapi dengan penegasan karakter khas agar Bukittinggi memiliki identitas sejarah yang lebih kuat dibanding daerah lain pada masa mempertahankan kemerdekaan.
Hal tersebut disampaikan dalam seminar nasional bertajuk “Bukittinggi Kota Perjuangan” yang digelar di Balairung rumah dinas wali kota.
Dalam pemaparannya, Prof. Anhar mengingatkan Pemerintah Kota Bukittinggi bersama para sejarawan agar tidak berhenti pada istilah “Kota Perjuangan” saja, melainkan menambahkan penjelasan yang menunjukkan keunikan peran Bukittinggi dalam sejarah nasional.
Ia menegaskan bahwa hampir semua daerah di Indonesia memiliki catatan perjuangan pada masa mempertahankan kemerdekaan. Karena itu, menurutnya, perlu ada pembeda yang jelas agar posisi sejarah Bukittinggi tidak disamakan begitu saja dengan kota lain.
“Jika ditanya, saya akan menyebut Bukittinggi sebagai kota perjuangan dalam situasi kedaruratan Republik. Itu yang menjadi pembeda dengan daerah lainnya,” ujarnya, dikutip dari Kominfo, Sabtu (20/6/2026).
Ia juga menyinggung situasi pada masa Agresi Militer Belanda kedua, ketika sejumlah pihak internasional, termasuk Amerika Serikat melalui para pejabatnya, telah memberikan peringatan tentang pentingnya posisi Indonesia di masa depan. Namun peringatan tersebut tidak diindahkan oleh Belanda yang tetap melanjutkan agresi.
Lebih lanjut, Prof. Anhar mendorong Pemerintah Kota Bukittinggi untuk terus mendiskusikan dan merumuskan kekhasan sejarah tersebut, agar dapat diajukan sebagai penguatan identitas kota di tingkat nasional.
“Bukittinggi memiliki kekhususan sebagai kota yang tidak sama dengan daerah lain pada periode kemerdekaan. Kekhasan itu nyata dan tidak dimiliki oleh wilayah lain,” tegasnya.(da*)


