Padang, Rakyatterkini.com – Pemerintah Kecamatan Padang Barat terus melakukan berbagai inovasi dalam upaya meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) aparatur sipil negara (ASN). Salah satunya melalui program rutin bertajuk Rabu Belajar, yang kini juga difokuskan pada pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk menunjang pekerjaan birokrasi sehari-hari.
Kegiatan yang digelar di Aula Kantor Camat Padang Barat pada Rabu (10/6/2026) tersebut mengangkat tema “Rahasia Pekerjaan Lebih Cepat Tanpa Lembur: Optimalisasi AI untuk ASN yang Lebih Produktif”. Pelatihan ini diikuti dengan antusias oleh para pegawai kecamatan serta perwakilan ASN dari sepuluh kelurahan di wilayah Padang Barat.
Camat Padang Barat, Diko Riva Utama, menjelaskan bahwa program Rabu Belajar memang dirancang untuk menjawab berbagai kendala administrasi yang selama ini kerap menghambat kinerja pegawai.
“Program ini terus kita jalankan secara berkelanjutan, baik secara tatap muka maupun daring. Ke depan, metode pembelajarannya akan terus disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan, dengan tujuan utama meningkatkan kualitas SDM serta pengelolaan data di lingkungan Kecamatan Padang Barat,” ujarnya.
Ia juga menyoroti berbagai persoalan yang sering dihadapi ASN dalam pekerjaan sehari-hari. Menurutnya, banyak staf yang masih terkendala dalam penyusunan surat, pembuatan draf sambutan secara mendadak, hingga penyusunan notulen rapat yang memakan waktu cukup lama. Dengan bantuan teknologi, hal-hal tersebut diharapkan bisa menjadi lebih efisien.
Untuk memperdalam materi, pihak kecamatan menghadirkan Huda Putra, Redaktur Padangkita.com, sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa kecerdasan buatan seperti Gemini dapat membantu mempercepat pembuatan draf surat maupun laporan, sehingga ASN bisa lebih fokus pada perumusan kebijakan dan peningkatan pelayanan publik.
“AI bukan untuk menggantikan peran pengambilan keputusan, tetapi menjadi asisten virtual yang membantu menyediakan kerangka awal pekerjaan. Ada tiga manfaat utama, yaitu penyusunan draf surat resmi, peringkasan data seperti notulen rapat, serta membantu riset regulasi secara lebih cepat,” jelasnya.
Huda juga memperkenalkan metode prompt bernama RKPF yang dapat membantu menghasilkan perintah yang lebih efektif saat menggunakan AI, yaitu Role (peran), Konteks (latar belakang), Perintah (instruksi), dan Format (hasil akhir yang diinginkan).
Meski demikian, ia mengingatkan agar penggunaan AI tetap dilakukan secara bijak. ASN dilarang memasukkan data rahasia negara, dokumen sensitif, maupun data pribadi masyarakat seperti NIK ke dalam sistem AI.
“AI bisa saja menghasilkan informasi yang tidak sepenuhnya akurat, sehingga hasilnya hanya boleh dijadikan sebagai draf awal. Verifikasi tetap harus dilakukan oleh pengguna agar sesuai dengan aturan tata naskah dinas yang berlaku,” tegasnya.(da*)


