Padang Pariaman, Rakyatterkini.com - Di hunian sementara (huntara) Kapalo Koto Padang, Yusniati (60) merasa beruntung pada hari itu. Pasalnya, aliran air bersih kembali mengalir sehingga ia bisa mencuci pakaian yang sudah menumpuk selama beberapa waktu.
Namun, kondisi tersebut tidak selalu terjadi. Menjelang hampir enam bulan tinggal di huntara pascabencana banjir, Yusniati bersama para penghuni lainnya masih kerap mengalami kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Bantuan yang sebelumnya rutin datang pun disebut mulai berkurang sejak Idulfitri lalu.
Di lokasi huntara tersebut sebenarnya tersedia empat tandon air berukuran besar untuk memenuhi kebutuhan warga. Akan tetapi, menurut Yusniati, tandon tersebut sering tidak terisi karena mesin pompa air kerap mengalami kerusakan.
“Seperti inilah kondisi kami, jangankan untuk mencuci pakaian, untuk mandi saja kadang kami kesulitan air,” ujarnya saat ditemui di area toilet umum huntara.
Yusniati bersama dua anaknya mulai menempati huntara sejak Januari 2026 setelah rumah mereka di kawasan Batu Busuk Batu Busuk hanyut diterjang banjir bandang pada akhir November 2025. Sebagai orang tua tunggal, ia kini masih menunggu kepastian dari pemerintah terkait hunian tetap yang dijanjikan.
Selama tinggal di huntara, ia berharap bisa segera mendapatkan tempat tinggal permanen agar kehidupan kembali stabil. Saat ini, kebutuhan keluarga hanya bergantung pada penghasilan anaknya yang bekerja serabutan.
“Sejak setelah Lebaran, bantuan juga sudah jarang datang. Kalau ada bantuan, saya sangat bersyukur. Kalau tidak, kami hanya bertahan dengan sisa-sisa yang ada,” tuturnya.
Keluhan serupa juga disampaikan penghuni lain, Arizal (36), yang telah memiliki dua anak. Ia berharap segera bisa pindah ke hunian tetap agar dapat kembali membangun kehidupan dan pekerjaan secara normal.
Sejak terdampak banjir, Arizal mengaku kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap. Saat ini ia hanya bekerja serabutan sebagai kuli bangunan dengan penghasilan yang tidak menentu.
“Yang paling berat bukan hanya kehilangan rumah, tapi ketidakpastian untuk masa depan keluarga,” katanya. “Saya hanya ingin punya rumah sederhana, yang penting anak-anak bisa hidup tenang.”
Di sisi lain, selain pembangunan hunian tetap yang masih berlangsung, pemulihan infrastruktur juga menjadi perhatian. Salah satunya adalah jembatan di Nagari Anduring, Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, yang putus akibat bencana banjir pada November 2025. Kondisi ini masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah dalam proses pemulihan pascabencana.(da*)


