Notification

×

Iklan

Rupiah Diprediksi Menguat di Semester II 2026

Selasa, 19 Mei 2026 | 14:35 WIB Last Updated 2026-05-19T07:35:00Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com — Pemerintah bersama Bank Indonesia menyatakan keyakinannya bahwa nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berpotensi kembali menguat pada paruh kedua 2026. 

Tekanan pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini dinilai lebih disebabkan oleh faktor musiman serta sentimen jangka pendek, bukan karena penurunan fundamental ekonomi nasional.

Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih berada dalam posisi yang cukup solid. Karena itu, fluktuasi rupiah tidak perlu dipandang sebagai masalah besar.

Ia menambahkan, fokus pemerintah saat ini adalah menjaga kekuatan fondasi ekonomi agar pertumbuhan tetap stabil di tengah ketidakpastian global.

“Ke depan kita akan perbaiki pelemahan rupiah. Saat ini fundamental ekonomi kita bagus, dan yang terjadi lebih banyak dipengaruhi sentimen jangka pendek. Jadi kami konsentrasi menjaga pertumbuhan ekonomi agar tetap berjalan baik,” ujarnya di Jakarta, Senin (18/5/2026).

Selain itu, pemerintah juga mulai aktif masuk ke pasar obligasi atau bond market sebagai langkah untuk memperkuat stabilitas sistem keuangan dalam negeri.

Menurut Purbaya, sebagian kekhawatiran masyarakat terhadap pelemahan rupiah muncul karena adanya perbandingan dengan krisis ekonomi 1997–1998. Namun ia menilai kondisi ekonomi saat ini sudah jauh lebih kuat dan berbeda dibanding masa krisis tersebut.

Pandangan senada disampaikan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo. Ia menjelaskan bahwa penguatan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi kebutuhan musiman, seperti pembayaran biaya haji, dividen perusahaan, hingga kewajiban utang luar negeri.

“Penguatan dolar ini lebih karena faktor permintaan, biasanya untuk kebutuhan haji, pembayaran dividen, dan pembayaran utang luar negeri,” jelasnya di Gedung DPR RI.

Bank Indonesia memperkirakan tekanan terhadap rupiah akan mulai berkurang pada periode Juli hingga September 2026. Berdasarkan pola beberapa tahun terakhir, rentang waktu tersebut kerap menjadi momentum penguatan rupiah.

“Biasanya Juli, Agustus, September rupiah akan menguat kembali, dan kami optimistis bergerak di kisaran Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS, sesuai asumsi makro APBN,” tambah Perry.

Ia menegaskan bahwa bank sentral akan terus menjaga stabilitas pasar keuangan tanpa mengganggu likuiditas domestik. Jika diperlukan, BI siap mengambil langkah lanjutan untuk menjaga kestabilan rupiah.

Perry juga menyinggung pengalaman krisis 1997–1998, di mana kebijakan yang terlalu menekan stabilitas nilai tukar saat itu justru berdampak pada ketatnya likuiditas dan memperburuk kondisi ekonomi.

“Hal seperti itu tidak ingin kami ulangi. Karena itu kami juga melakukan pembelian SBN di pasar sekunder agar likuiditas tetap terjaga sekaligus mendorong arus masuk modal,” katanya.

Dengan kondisi fundamental ekonomi yang dinilai masih kuat serta tekanan musiman yang diperkirakan mereda dalam beberapa bulan ke depan, pemerintah dan Bank Indonesia optimistis rupiah berpeluang kembali stabil dan menguat pada semester II 2026.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update