![]() |
| Ilustrasi. |
Jakarta, Rakyatterkini.com – Pemerintah memperkuat langkah intervensi gizi pada tahap paling penting dalam siklus kehidupan manusia melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) 3B yang ditujukan bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Program ini menjadi salah satu strategi utama untuk menekan angka stunting sejak awal.
Hal tersebut disampaikan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga), Wihaji, saat melakukan kunjungan kerja pemantauan Program Bangga Kencana serta MBG 3B di wilayah pedalaman sekaligus mencanangkan Pelayanan KB Serentak di Kabupaten Lebak, Banten, pada Kamis (30/4/2026).
Wihaji menegaskan bahwa masa kehamilan hingga usia balita merupakan periode emas yang sangat berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM) di masa depan.
Ia menjelaskan, program MBG 3B difokuskan untuk memastikan kecukupan gizi pada fase tersebut agar dampak penurunan stunting bisa dirasakan dalam jangka panjang. Menurutnya, kesehatan ibu hamil akan berdampak langsung pada kondisi anak yang dilahirkan. “Jika ibu sehat, maka balita juga akan tumbuh sehat. Di situlah masa depan bangsa ditentukan,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa penanganan stunting tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan harus dimulai dari hulu secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Dalam pelaksanaannya, Wihaji meminta Tim Pendamping Keluarga (TPK) tidak hanya berperan sebagai penyalur bantuan, tetapi juga aktif memberikan edukasi kepada masyarakat penerima manfaat. Edukasi tersebut mencakup pemahaman gizi ibu, kesehatan reproduksi, penggunaan program keluarga berencana (KB) pascapersalinan, hingga memastikan bantuan tepat sasaran.
“Penyaluran harus benar-benar menyentuh sasaran, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Distribusi makanan bergizi dilakukan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terhubung dengan posyandu,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Banten Achmad Dimyati Natakusumah menyampaikan dukungannya terhadap penguatan intervensi pada masa golden age tersebut. Ia menilai pendekatan humanis serta berbasis budaya lokal sangat penting dalam pelaksanaan program.
“Ibu hamil harus dihormati karena sedang mempersiapkan generasi penerus. Di daerah seperti Lebak, pendekatan khusus juga diterapkan, termasuk bagi masyarakat Badui agar program bisa diterima sesuai kearifan lokal,” katanya.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, angka stunting di Kabupaten Lebak masih berada di level 32,4 persen. Pemerintah berharap program MBG 3B dapat mempercepat penurunan angka tersebut sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat menuju Indonesia Emas 2045.(da*)


