Notification

×

Iklan

Lomba Bertutur Pariaman 2026 Angkat Kisah Nan Tongga

Rabu, 06 Mei 2026 | 21:41 WIB Last Updated 2026-05-06T15:12:06Z

Nan Tongga Magek Jabang: Lebih dari Sekadar Dongeng, Jadi ‘Senjata’ 

Pariaman, Rakyatterkini.com – Suasana Gedung Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pariaman pada Selasa (5/5/2026) tampak semarak oleh lantunan suara puluhan anak yang tampil dalam Lomba Bertutur Tingkat Kota Pariaman Tahun 2026. 

Sebanyak 71 peserta dari jenjang SD/MI se-Kota Pariaman mulai unjuk kemampuan dalam ajang tersebut.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang perlombaan biasa, tetapi juga sarana untuk menghidupkan kembali cerita-cerita kepahlawanan daerah, terutama kisah legendaris Nan Tongga Magek Jabang. Acara tersebut dibuka oleh Asisten II Setdako Pariaman, Nazifah.

Di tengah derasnya arus budaya digital dan hiburan modern, cerita rakyat Nan Tongga Magek Jabang kembali diangkat sebagai media penting dalam membentuk karakter generasi muda, khususnya di Sumatera Barat.

Kisah yang berasal dari Pariaman ini dipandang bukan sekadar dongeng, melainkan cerminan nilai-nilai sosial masyarakat Minangkabau seperti kesetiaan, kerja keras, serta tanggung jawab.

Budayawan sekaligus akademisi Universitas Andalas, Dr. Pramono, M.Si., menjelaskan bahwa Kaba Nan Tongga Magek Jabang merupakan salah satu karya sastra lisan berbentuk prosa lirik yang memiliki pengaruh besar. Cerita ini juga dianggap sebagai representasi filosofi merantau dalam budaya Minang.

Secara garis besar, cerita tersebut mengisahkan perjalanan Nan Tongga Magek Jabang yang merantau untuk mencari tiga benda pusaka. Pencarian itu dilakukan sebagai syarat pernikahan yang diminta oleh tunangannya, Putri Gondoriah.

Menurut Pramono, inti dari cerita ini sangat kuat pada nilai tanggung jawab. “Nan Tongga tidak hanya mencari benda berharga, tetapi menunjukkan kesungguhan dan pengabdian meski penuh risiko,” ujarnya dalam sebuah kajian literasi di Padang.

Sejumlah kajian budaya juga menunjukkan bahwa cerita ini memiliki kekhasan karena erat dengan latar wilayah pesisir Pariaman. Hal tersebut menjadikan tokoh Nan Tongga sebagai simbol identitas masyarakat setempat, terutama dalam menghargai proses perjuangan.

Sementara itu, pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Padang (UNP), Prof. Ermanto, menilai bahwa pengemasan cerita rakyat dalam bentuk modern sangat penting agar nilai-nilainya tetap relevan di era sekarang.

“Tantangannya adalah bagaimana membuat kisah Nan Tongga tetap menarik bagi generasi Z dan Alpha. Lomba bertutur maupun adaptasi digital menjadi jembatan penting dalam literasi,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa berdasarkan standar literasi nasional, cerita daerah berperan dalam membentuk kecerdasan emosional anak. Dari tokoh Nan Tongga, terdapat nilai yang dapat dipetik seperti keberanian menghadapi perantauan, menjaga komitmen, serta mencintai tanah kelahiran.

Pemerintah Kota Pariaman melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) turut mendorong agar kisah Nan Tongga dijadikan materi utama dalam pembelajaran literasi di sekolah.

Kepala Dispersip Pariaman, M. Syukri, menyebutkan bahwa pengangkatan cerita ini dalam lomba bertutur bertujuan agar anak-anak lebih mengenal tokoh dari daerahnya sendiri.

“Jangan sampai generasi muda lebih akrab dengan tokoh fiksi luar negeri dibandingkan dengan cerita daerahnya sendiri. Nan Tongga Magek Jabang adalah simbol keteguhan dan jati diri masyarakat Minangkabau,” ungkapnya.

Melalui penguatan literasi berbasis budaya lokal ini, Pemerintah Kota Pariaman berharap generasi muda Sumatera Barat tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga memiliki akar budaya yang kuat serta siap menghadapi perubahan zaman.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update