Notification

×

Iklan

Rupiah Menguat Tipis, Tekanan Dinilai Hanya Dampak Global

Kamis, 09 April 2026 | 11:43 WIB Last Updated 2026-04-09T04:43:00Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com – Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada Selasa (7/4) ditutup di angka Rp17.105 per dolar AS. Namun, pada pembukaan perdagangan Rabu pagi (8/4/2026), mata uang Garuda menunjukkan penguatan tipis ke posisi Rp16.985 per dolar AS.

Pelemahan rupiah yang sempat terjadi dinilai bukan mencerminkan lemahnya kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Sejumlah pelaku pasar melihat tekanan tersebut lebih dipicu oleh situasi global yang sedang bergejolak, seperti menguatnya dolar AS serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia, David Sutyanto, menjelaskan bahwa pergerakan rupiah saat ini perlu dipahami dalam konteks global. 

Ia menyebut, penguatan dolar AS terjadi secara luas terhadap berbagai mata uang, terutama di negara berkembang, seiring tingginya suku bunga di Amerika Serikat dan kecenderungan investor global beralih ke aset yang lebih aman.

Menurutnya, tekanan terhadap rupiah bersifat sementara dan merupakan bagian dari siklus ekonomi global, bukan semata-mata disebabkan oleh faktor domestik.

David juga menegaskan bahwa di tengah tekanan tersebut, kondisi ekonomi Indonesia masih tergolong kuat. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang stabil di kisaran 5 persen, inflasi yang tetap terkendali sesuai target Bank Indonesia, serta sektor perbankan yang memiliki permodalan dan likuiditas yang cukup baik.

Dari sisi eksternal, cadangan devisa Indonesia juga dinilai masih aman. Hingga akhir Maret 2026, cadangan devisa tercatat sebesar 148,2 miliar dolar AS, cukup untuk membiayai lebih dari enam bulan impor.

Selain itu, neraca perdagangan yang masih mencatat surplus turut menjadi penopang penting, didukung oleh kinerja ekspor komoditas unggulan seperti batu bara, minyak kelapa sawit (CPO), dan nikel.

Pendapat serupa disampaikan ekonom Fakhrul Fulvian. Ia menilai pelemahan rupiah saat ini sudah masuk dalam fase overshooting, yaitu kondisi ketika nilai tukar bergerak melampaui keseimbangan jangka pendek akibat respons berlebihan pasar terhadap tekanan global.

Menurut Fakhrul, kondisi ini lebih dipengaruhi oleh guncangan eksternal dan penyesuaian yang belum sepenuhnya terjadi di dalam negeri, bukan karena perubahan fundamental ekonomi yang bersifat permanen.

Ia juga menyoroti adanya keterlambatan penyesuaian harga domestik, terutama pada sektor-sektor yang masih diatur pemerintah. Dalam situasi tersebut, nilai tukar menjadi variabel yang lebih cepat menyesuaikan.

Meski demikian, langkah Bank Indonesia dinilai sudah tepat dalam menjaga stabilitas rupiah. Intervensi di pasar, baik melalui transaksi langsung maupun instrumen derivatif, dianggap penting untuk meredam fluktuasi dan menjaga kepercayaan pelaku pasar, meskipun tidak langsung menghilangkan tekanan.

Di sisi lain, pelemahan rupiah justru membuka peluang bagi perekonomian nasional. Kondisi ini dapat meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar global serta membantu memperbaiki neraca transaksi berjalan.

David menilai momentum ini juga dapat dimanfaatkan untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus memperkuat industri dalam negeri.

Sementara itu, Fakhrul melihat adanya indikasi perbaikan kondisi global, seperti meredanya ketegangan geopolitik dan naiknya harga komoditas yang menguntungkan Indonesia sebagai negara pengekspor.

Ia memperkirakan tekanan terhadap rupiah akan berangsur mereda seiring masuknya fase normalisasi nilai tukar setelah periode overshooting. Situasi ini dinilai dapat dimanfaatkan investor untuk menyesuaikan strategi, termasuk secara bertahap mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Dengan demikian, fluktuasi rupiah saat ini tidak hanya dipengaruhi dinamika global, tetapi juga menjadi peluang untuk memperkuat daya saing ekonomi Indonesia ke depan.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update