Notification

×

Iklan

Rani, Bocah SD Padang Pariaman Jadi Tulang Punggung Keluarga

Jumat, 17 April 2026 | 07:35 WIB Last Updated 2026-04-17T00:35:00Z

Kisah Rani, Bocah Tulang Punggung Keluarga di Padang Pariaman 

Padang Pariaman, Rakyatterkini.com– Rani Rafika Dewi harus berhenti bersekolah saat masih duduk di kelas 5 SD. Di usia yang masih sangat muda, ia justru harus memikul tanggung jawab besar sebagai pengasuh sekaligus penopang hidup bagi dua adiknya setelah kedua orang tua mereka meninggal dunia.

Sejak saat itu, tiga bersaudara yatim asal Korong Ladang Laweh, Nagari Sicincin, menjalani hari-hari dalam kondisi serba terbatas. Hidup mereka jauh dari kata layak, hingga akhirnya harapan baru mulai muncul pada Selasa (14/4/2026).

Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman bersama Baznas, LKKS, dan komunitas sosial ASPILA turun langsung memberikan bantuan. Melalui program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Baznas mengalokasikan dana sekitar Rp25 juta untuk pembangunan rumah baru bagi keluarga kecil tersebut.

Tidak hanya bantuan material, proses pembangunan rumah ini juga mengedepankan semangat kebersamaan. Warga sekitar dilibatkan dalam pengerjaan sebagai bentuk gotong royong.

“Material bangunan difasilitasi oleh Baznas, sedangkan pengerjaannya dilakukan bersama masyarakat,” ujar Ketua LKKS Padang Pariaman, Nita Christanti Azis.

Bagi Rani dan adik-adiknya, bantuan ini bukan sekadar rumah baru, melainkan juga kesempatan untuk kembali menjalani masa kanak-kanak yang sempat terhenti. Selama ini, waktu mereka banyak tersita untuk bertahan hidup dan mencari kebutuhan sehari-hari.

Pemerintah daerah juga memastikan Rani tetap bisa melanjutkan pendidikan. Ia telah didaftarkan kembali melalui program pendidikan kesetaraan agar tidak putus sekolah.

“Kami ingin memastikan ia bisa menyelesaikan pendidikan hingga SMA, bahkan kalau memungkinkan sampai perguruan tinggi,” kata Nita.

Selain itu, Rani juga mendapat dukungan berupa aktivitas kerja ringan sementara yang sesuai kemampuannya serta bantuan beasiswa untuk masa depannya, agar tetap bisa belajar tanpa terbebani sepenuhnya oleh kebutuhan ekonomi.

Kasus ini mulai mendapat perhatian setelah laporan masyarakat pada 10 April 2026. Kepala Dinas Sosial P3A Padang Pariaman, Siska Primadona, kemudian melakukan asesmen cepat terhadap kondisi keluarga tersebut. Menurutnya, persoalan yang dihadapi tidak hanya soal ekonomi, tetapi juga kondisi psikologis anak-anak yang kehilangan hak dasarnya.

“Pendampingan psikologis sangat penting karena mereka sudah lama tidak mendapatkan hak sebagai anak, seperti belajar, bermain, dan bersosialisasi dengan normal,” jelasnya.

Saat ini, bantuan darurat seperti sembako, perlengkapan rumah tangga, hingga bantuan tunai telah disalurkan. Namun yang paling berarti bagi Rani dan adik-adiknya adalah kehadiran perhatian dan dukungan yang membuat mereka tidak lagi menghadapi keadaan ini sendirian.

Kolaborasi antara pemerintah daerah, aparat, lembaga zakat, dan komunitas sosial di Padang Pariaman ini menjadi bukti bahwa kepedulian bersama mampu membawa perubahan nyata bagi keluarga yang sebelumnya hampir terabaikan.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update