Notification

×

Iklan

Filosofi Rendang Minang yang Jarang Diketahui

Selasa, 21 April 2026 | 16:16 WIB Last Updated 2026-04-21T09:16:00Z

Rendang Restoran Selamat

Padang, Rakyatterkini.com – Kuliner Minangkabau selalu memiliki tempat tersendiri di kalangan pecinta makanan, dengan rendang sebagai hidangan yang paling terkenal. 

Namun, di balik kepopulerannya hingga ke mancanegara, ternyata masih banyak filosofi dan fakta menarik tentang rendang yang belum banyak diketahui publik.

Dalam sebuah obrolan kuliner yang diunggah di kanal YouTube Gastronusa bersama pakar kuliner Reno Andam Suri yang dikenal sebagai “Rendang Traveler”, terungkap sejumlah pandangan menarik yang dapat memperluas pemahaman tentang rendang. Berikut beberapa poin pentingnya.

1. Rendang berasal dari sebuah proses, bukan sekadar nama makanan

Secara asal kata, rendang berakar dari istilah merandang, yaitu sebuah kata kerja. Istilah ini merujuk pada proses memasak yang bertujuan menghilangkan kandungan air dalam bahan makanan.

Seperti halnya kata “tumis” yang berasal dari teknik memasak, rendang pada awalnya juga merupakan nama proses, sebelum akhirnya dikenal luas sebagai nama hidangan.

2. Melalui tiga tahap memasak: gulai, kalio, hingga rendang

Proses memasak rendang tidak instan dan memerlukan kesabaran karena melewati beberapa tahap. Awalnya adalah gulai, ketika santan masih banyak dan encer. Saat kuah mulai mengental dan berkurang, hidangan berubah menjadi kalio.

Tahap akhir adalah rendang. Pada fase ini masih ada beberapa tingkat kematangan, mulai dari rendang mudo yang warnanya masih agak cerah, kemudian tahap karuang atau “semut merah”, hingga akhirnya menjadi rendang kering dengan warna gelap pekat dan bumbu yang meresap sempurna.

3. Perbedaan rasa antara wilayah darek dan pesisir

Secara budaya, Sumatra Barat terbagi menjadi dua wilayah utama, yakni darek (dataran tinggi) dan pesisir. Perbedaan ini turut memengaruhi cita rasa rendang.

Di daerah darek seperti Batusangkar, Agam, dan Lima Puluh Kota, rendang biasanya dibuat dengan bumbu yang lebih sederhana sehingga rasa daging lebih menonjol. Sementara itu, rendang dari wilayah pesisir seperti Kota Padang cenderung lebih kaya rempah karena pengaruh sejarah perdagangan dan interaksi budaya.

4. Rendang tidak hanya berbahan daging sapi

Di luar anggapan umum, rendang tidak terbatas pada daging sapi saja. Dalam tradisi Minangkabau, rendang merupakan teknik memasak sekaligus metode pengawetan alami yang bisa diterapkan pada berbagai bahan.

Mulai dari ayam, udang, jamur, hingga nangka muda (cubadak) juga dapat diolah menjadi rendang dengan cita rasa khas.

5. Masakan Minang bertumpu pada teknik dasar

Banyak yang mengira masakan Minang sangat rumit dan menggunakan banyak rempah. Namun menurut Reno Andam Suri, inti dari masakan Minang sebenarnya bertumpu pada pemahaman tiga teknik utama, yaitu balado, gulai, dan rendang.

Jika ketiga teknik dasar ini sudah dikuasai, berbagai variasi hidangan Minang dapat dikembangkan. Contohnya, dari teknik balado cabai hijau bisa lahir menu khas seperti itik lado mudo.

Pada akhirnya, kuliner Minangkabau lebih menekankan pada kualitas bahan, teknik memasak yang tepat, serta warisan tradisi yang terus dijaga, bukan sekadar soal banyaknya bumbu atau klaim keaslian resep.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update