Jakarta, Rakyatterkini.com – Pemerintah, melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), tengah menyiapkan pembatasan akses media sosial untuk anak-anak di bawah usia 16 tahun. Rencana ini akan diterapkan secara bertahap mulai akhir Maret mendatang.
Langkah tersebut bertujuan melindungi anak-anak dari risiko kejahatan siber sekaligus mengurangi efek kecanduan media sosial yang kerap dialami generasi muda.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi, menyebutkan bahwa sekitar 48 persen pengguna internet di Indonesia berusia di bawah 18 tahun, dengan 80 persen di antaranya menghabiskan rata-rata hingga tujuh jam per hari untuk mengakses dunia maya.
“Penelitian terbaru menunjukkan bahwa penggunaan media sosial pada usia dini dapat meningkatkan risiko gangguan psikologis saat remaja akhir, terutama melalui ketidakpercayaan terhadap orang lain, gangguan tidur, dan citra diri negatif,” ungkap Imran kepada detikcom.
Imran menambahkan, pada awal penerapan pembatasan, anak mungkin memerlukan waktu adaptasi. Dukungan orang tua menjadi kunci penting selama proses ini. Adaptasi tersebut bisa ditandai dengan perasaan terisolasi, konflik dengan orang tua, hingga potensi keterlambatan literasi digital dan sosial.
“Dampak ini biasanya muncul dalam beberapa bulan hingga beberapa tahun, tergantung intensitas pembatasan dan dukungan lingkungan. Orang tua serta fasilitas kesehatan perlu fokus pada pendampingan, literasi digital, dan pemantauan kesehatan mental anak,” jelasnya.
Selain itu, Imran menyoroti risiko keterlambatan literasi digital jika anak tidak diberikan alternatif belajar teknologi atau kesempatan mengasah kemampuan berpikir kritis terhadap informasi daring.
Manfaat Positif Jangka Panjang
Meski ada tantangan, pembatasan ini juga membawa dampak positif. Dalam jangka pendek, anak terhindar dari konten negatif dan tekanan sosial, sehingga kualitas tidur dan fokus belajar meningkat.
Dalam jangka menengah, antara 3 hingga 24 bulan, kecanduan digital menurun dan interaksi tatap muka anak meningkat. Lebih lama lagi, anak dapat memiliki kesehatan emosional yang lebih baik, keterampilan sosial meningkat, serta risiko gangguan mental berkurang.
“Dampak positif ini maksimal jika pembatasan disertai edukasi dan aktivitas pengganti. Penting juga memitigasi risiko negatif awal seperti stres adaptasi, perasaan kehilangan koneksi sosial, isolasi, dan perilaku mencoba mengakali aturan jika pembatasan diterapkan mendadak tanpa pendampingan,” pungkas Imran.(da*)


