Notification

×

Iklan

Matur Sulap Rumah Tua Jadi Homestay Tradisional

Selasa, 24 Maret 2026 | 12:16 WIB Last Updated 2026-03-24T05:16:00Z

Matur Sulap Rumah Tua Jadi Homestay Tradisional

Agam, Rakyatterkini.com – Tradisi merantau masyarakat Minang telah lama dikenal, di mana banyak warga meninggalkan kampung halaman mereka. Akibatnya, sejumlah rumah lama sering terbengkalai dan tak terawat.

Namun, Asosiasi Pondok Wisata Agam melihat kondisi ini sebagai peluang untuk mengembangkan sektor pariwisata. Rumah-rumah tua, termasuk rumah gadang yang telah puluhan tahun ditinggalkan, kini diubah menjadi homestay.

Di Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, tercatat ada sekitar 18 rumah yang telah disulap menjadi homestay tradisional yang disebut rumah saisuak. Homestay ini tersebar di berbagai nagari di Kecamatan Matur.

Kecamatan Matur sendiri memiliki potensi alam yang menakjubkan. Objek wisata seperti Puncak Lawang, Lawang Park, dan Ambun Tanai sudah dikenal hingga mancanegara karena menawarkan pemandangan Danau Maninjau. Dengan menginap di homestay rumah saisuak, wisatawan dapat merasakan kehidupan masyarakat Minang tempo dulu sekaligus menikmati keindahan alam Matur.

Pada 2013, Forum Agrowisata Madani Kecamatan Matur memulai konsep wisata homestay ini, yang saat itu masih terbilang baru di Sumatera Barat. Ketua forum kala itu, Zuhrizul, berharap Matur dapat berkembang seperti Lembang di Bandung.

Salah satu rumah gadang yang berada di pinggir jalan Bukittinggi-Lubuk Basung diubah menjadi penginapan dengan nama Rumah Saisuak.

“Renovasi dilakukan tanpa mengubah bentuk asli rumah,” ujar Wakil Ketua Asosiasi Pondok Wisata Agam, Rahman Dt Rajo Lelo, kepada Infosumbar, Senin (23/3/2026).

Di Rumah Saisuak, semua perabot seperti tempat tidur, lampu gantung, meja makan, kursi, jam dinding, televisi, dan perlengkapan dapur masih mempertahankan nuansa antik. Rumah gadang ini diperkirakan berusia lebih dari 100 tahun dan dibangun oleh Gaek Uban pada masa pemangku adat kaumnya, Dt Tan Mangindo, menjabat sebagai Demang pada era penjajahan Belanda (1896).

Homestay ini menawarkan pengalaman unik. Wisatawan tidak hanya menginap di kamar, melainkan ikut merasakan aktivitas sehari-hari masyarakat setempat, seolah tinggal bersama keluarga angkat.

“Kami ingin menghadirkan pengalaman berbeda. Wisatawan bisa merasakan kehidupan tempo dulu yang tidak mereka temui di tempat lain,” jelas Rahman.

Dalam paket wisata ini, pengunjung dapat ikut berbagai kegiatan tradisional seperti manyabik, mairiak, manciang baluik, memancing, hingga membuat saka. Menu yang disajikan pun khas zaman dulu, seperti samba uwok pado dan uwok tulang. Di malam hari, wisatawan dapat belajar silat dan kesenian tradisional Minang.

Pengalaman ini juga melibatkan pasar tradisional, di mana wisatawan bisa membeli bahan makanan dan memasak sendiri. “Mereka benar-benar merasakan seperti tinggal di rumah orang tua angkat,” tambahnya.

Wisata homestay ini memberi dampak positif bagi masyarakat setempat. Selain mendorong renovasi rumah adat dan pembinaan sanggar seni, kegiatan ini juga meningkatkan ekonomi lokal. Misalnya, pengunjung yang ikut aktivitas di sawah memberikan kontribusi kepada petani setempat.

Sayangnya, wisata ini sempat mengalami penurunan, terutama saat pandemi Covid-19 yang membuat aktivitas homestay berhenti selama tiga tahun. Namun, pada 2022-2024, kunjungan mulai meningkat kembali sebelum terganggu oleh bencana hidrometeorologi akhir tahun lalu di Sumatera Barat.

Asosiasi Pondok Wisata Agam kini berupaya membenahi pengelolaan homestay agar kembali menarik wisatawan, termasuk menggandeng travel agen untuk promosi dan sinkronisasi kegiatan dengan pemerintah daerah.

Harga paket wisata rumah saisuak mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 300 ribu per orang per malam. Selain itu, pengelola juga tengah merencanakan wisata petik stroberi di Matur.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Agam, Khasman Zaini, menyatakan dukungannya terhadap pengembangan Rumah Saisuak sebagai destinasi unggulan. “Kami memberikan pembinaan dari segi pengelolaan dan promosi melalui brosur serta database wisata Agam,” jelas Khasman.

Prestasi homestay ini juga pernah menorehkan prestasi. Pada 2016, lomba homestay tingkat nasional menempatkan Kecamatan Matur sebagai juara 2, menunjukkan potensi besar wisata ini untuk menjadi primadona di Agam.

“Kuncinya, pengelola perlu fokus dan serius, tetap mempertahankan konsep kearifan lokal yang ditawarkan,” pungkasnya.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update