Notification

×

Iklan

Maikon Tailor, Perjuangan Pemuda Sitapus Menjahit 'Mimpi' hingga Larut Malam

Selasa, 10 Maret 2026 | 16:58 WIB Last Updated 2026-03-10T09:58:00Z

Pelatihan menjahit di BLK.

Padang Aro, Rakyatterkini.com – Di sebuah sudut Nagari Sitapus, Kecamatan Sangir Batang Hari, Solok Selatan, Sumatera Barat, lampu di sebuah rumah kecil kerap masih menyala hingga dini hari. Di sanalah Maikon Saputra (23) menekuni pekerjaannya sebagai penjahit.

Pesanan yang terus berdatangan membuatnya harus rela menahan kantuk hingga pukul dua pagi agar setiap jahitan bisa selesai tepat waktu.

Bagi Maikon, menjahit bukan sekadar pekerjaan. Hobi itu sudah ia tekuni sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Ketertarikannya pada dunia jahit-menjahit terus ia pelihara hingga dewasa, bahkan menjadi jalan hidupnya saat ini.

Setelah menamatkan pendidikan SMA pada 2022, Maikon merasa kemampuannya masih perlu diasah. Setahun kemudian ia mengikuti pelatihan menjahit lanjutan yang diselenggarakan Balai Latihan Kerja (BLK) melalui fasilitasi Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Solok Selatan.

Sebelum mengikuti pelatihan, usaha kecil yang ia rintis dengan nama Maikon Tailor hanya menerima jasa permak pakaian. Namun pelatihan tersebut membuka jalan baru baginya untuk berkembang.

“Maikon Tailor sudah ada sejak saya masih SMA, tapi waktu itu hanya menerima permak. Setelah ikut pelatihan, saya belajar membuat pola dan menggunakan berbagai peralatan, jadi sekarang sudah bisa menjahit pakaian sendiri,” ujar Maikon, Selasa (10/3/2026).

Informasi mengenai pelatihan tersebut ia dapatkan dari media sosial. Tanpa ragu, Maikon segera mendaftar dan mengikuti pelatihan selama 20 hari. Dari sana, ia mendapatkan banyak pengetahuan baru yang kini menjadi bekal penting dalam menjalankan usahanya.

Usaha kecil yang ia bangun perlahan mulai berkembang. Pesanan datang dari berbagai kalangan, mulai dari anak sekolah hingga masyarakat umum. Namun Maikon masih memiliki harapan untuk mengembangkan usahanya lebih jauh.

Ia berharap bisa mendapatkan bantuan mesin bordir dari pemerintah. Menurutnya, kebutuhan bordir cukup tinggi, terutama untuk seragam sekolah. Sementara di wilayah Sitapus sendiri belum tersedia mesin bordir.

“Saya juga berharap ada pelatihan lanjutan dari BLK supaya kemampuan menjahit saya bisa terus meningkat,” tuturnya.

Maikon merupakan satu dari ratusan peserta pelatihan yang dibina BLK di bawah naungan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Solok Selatan. Setiap tahun, berbagai jenis pelatihan diberikan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat.

Pada tahun 2026, pelatihan yang dibuka antara lain tata boga, desain visual, dan barista. Setiap paket pelatihan diikuti oleh 16 peserta, menyesuaikan dengan keterbatasan anggaran yang tersedia.

Kepala Disnakertrans Solok Selatan, Joni Firmansyah, mengatakan program pelatihan ini menjadi salah satu upaya pemerintah daerah untuk menciptakan tenaga kerja yang mandiri dan memiliki keterampilan.

“Program ini bertujuan agar masyarakat memiliki skill, bisa bekerja atau bahkan membuka usaha sendiri, sehingga dapat menekan angka pengangguran,” ujarnya.

Menurut Joni, sekitar 60 persen peserta pelatihan berhasil terserap di perusahaan yang beroperasi di Solok Selatan, sementara sebagian lainnya memilih membuka usaha sendiri seperti yang dilakukan Maikon.

Meski demikian, masih ada tantangan yang dihadapi para lulusan pelatihan, salah satunya keterbatasan akses modal usaha. Hal ini membuat sebagian peserta harus berjuang sendiri untuk mengembangkan usaha setelah pelatihan selesai.

Namun bagi Maikon, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Dengan mesin jahit yang terus berdengung hingga larut malam, ia perlahan menjahit harapan satu pakaian, satu pelanggan, dan satu langkah menuju masa depan yang lebih baik. (alwis)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update