Jakarta, Rakyatterkini.com – Pemerintah Iran menegaskan tidak pernah menutup akses pelayaran di Selat Hormuz serta tidak menghalangi aktivitas navigasi di jalur laut strategis tersebut. Namun, lalu lintas kapal di kawasan itu sempat terganggu setelah serangan gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menilai Washington sebagai pihak yang bertanggung jawab atas terganggunya pergerakan kapal tanker minyak dan kapal dagang dunia yang melintasi selat tersebut.
Menurut Araghchi, melambatnya produksi maupun distribusi minyak bukan disebabkan oleh Iran, melainkan akibat serangan militer yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat terhadap negaranya. Hal itu disampaikannya dalam wawancara dengan media Amerika, PBS, seperti dikutip pada Selasa (10/3/2026).
Ia menambahkan, tindakan Amerika Serikat telah membuat kawasan Timur Tengah, termasuk Selat Hormuz, menjadi tidak aman bagi pelayaran internasional. Kondisi itulah yang membuat banyak kapal tanker dan kapal niaga enggan melintasi jalur tersebut.
“Kami tidak pernah menutup Selat Hormuz,” tegasnya.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan komitmennya untuk menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Ia juga menegaskan tidak akan membiarkan Iran mengganggu stabilitas pasokan minyak global.
Trump bahkan memperingatkan akan mengambil tindakan militer yang lebih keras apabila pemblokiran terhadap Selat Hormuz terus terjadi.(da*)


