Jakarta, Rakyatterkini.com – Ketegangan militer antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel turut berdampak pada kota-kota di Uni Emirat Arab (UEA), termasuk Dubai. Kota yang biasanya ramai dikunjungi turis ini kini tampak sepi akibat melemahnya sektor pariwisata.
Iran sebelumnya melancarkan serangan rudal dan drone ke wilayah UEA, yang tidak hanya menimbulkan kerusakan di sejumlah lokasi, tetapi juga menurunkan citra Dubai sebagai salah satu destinasi paling aman di Timur Tengah.
Di musim liburan puncak, Dubai biasanya dipenuhi wisatawan. Namun, kini tempat-tempat populer seperti pasar, pantai, dan kawasan tepi laut terlihat jarang dikunjungi. Pasar Al Seef yang sempat ramai kini kosong, restoran kehilangan pelanggan, dan pantai di sekitar Burj Al Arab sepi pengunjung.
Kelesuan pariwisata ini terkait langsung dengan gangguan penerbangan di langit Timur Tengah akibat konflik militer Iran melawan AS dan Israel. Banyak maskapai global membatalkan penerbangan ke dan dari wilayah ini, sementara sejumlah penerbangan komersial masih tetap beroperasi dengan kapasitas terbatas.
Kementerian Luar Negeri Inggris bahkan mengeluarkan peringatan bagi warganya untuk menunda perjalanan ke UEA kecuali benar-benar mendesak. Mereka mengimbau warga agar menjauhi area sekitar fasilitas militer karena risiko serangan terhadap infrastruktur sipil, termasuk hotel, jalan, jembatan, fasilitas energi, lembaga keuangan, lokasi produksi minyak, sistem air, dan bandara.
Pihak Kementerian Pertahanan UEA mencatat sistem pertahanan udara Dubai telah menghadapi lebih dari 260 rudal balistik, 15 rudal jelajah, dan 1.514 drone. Pada 10 Maret 2026, lebih dari 90 persen serangan berhasil ditangkis, meski beberapa serangan tetap mengenai lokasi vital di kota ini.
Kondisi ini membuat Dubai, biasanya salah satu kota wisata tersibuk di Timur Tengah, kini mengalami ketidakpastian dan penurunan jumlah pengunjung yang signifikan.(da*)


