Notification

×

Iklan

Dari Buruh Pelabuhan Jadi Mubaligh Sumbar Terkenal

Kamis, 12 Maret 2026 | 00:45 WIB Last Updated 2026-03-11T17:45:00Z

Ustadz Ristawardi.

Padang, Rakyatterkini.com – Ramadan selalu menghadirkan kisah yang hangat di hati: kisah kerja keras yang membuahkan kemuliaan, ketulusan yang perlahan bersinar, dan iman yang tumbuh bahkan dari tempat paling sederhana. 

Salah satunya adalah perjalanan hidup Buya H. Ristawardi Dt. Marajo Nan Batungkek Ameh, mubaligh yang suaranya begitu akrab di masyarakat Sumatera Barat. Dikenal sebagai penceramah berjiwa budaya, ceramahnya memadukan kehangatan, humor, dan pesan mendalam, sehingga sering muncul di rekomendasi media sosial.

Namun, perjalanan dakwahnya tidak dimulai dari mimbar megah atau ruang akademik, melainkan dari kerja keras di Pelabuhan Teluk Bayur. Pada tahun 1974, Ristawardi muda mengangkat karung-karung semen produksi PT Semen Padang yang dikirim ke berbagai daerah, sebuah pekerjaan fisik yang menuntut kekuatan, kesabaran, dan ketekunan.

“Kalau sudah selesai bekerja, badan rasanya kaku. Dipanggil orang tak bisa menoleh, harus memutar seluruh badan,” kenangnya.

Dari pengalaman itu, ia menanam nilai kesabaran, disiplin, dan keteguhan hati—fundasi yang kemudian membentuk cara berdakwahnya. Beberapa tahun berselang, Ristawardi diangkat menjadi karyawan tetap PT Semen Padang sebagai cleaning service. Posisi sederhana ini justru menjadi awal kesempatan baru.

Meski sibuk bekerja, ia tetap aktif dalam kegiatan keagamaan, mengisi pengajian, dan membina rohani. Kesempatan besar datang ketika ia diminta menggantikan seorang pimpinan perusahaan dalam menyampaikan pidato pelepasan jenazah. 

Penampilannya sederhana, hanya mengandalkan ketulusan dan kefasihan berbicara, tetapi meninggalkan kesan mendalam.

Sejak itu, jalannya berubah. Ia dipindahkan ke kantor untuk membantu bagian Personalia dan pembinaan rohani, hingga akhirnya dipercaya sebagai Kepala Urusan Konseling Rohani. 

Selama 35 tahun, Buya Ristawardi menjadi pilar spiritual bagi ribuan pekerja PT Semen Padang, sekaligus bagian dari sejarah perusahaan yang konsisten mendukung syiar Islam melalui pembinaan berkelanjutan.

Lahir di Baso, Bukittinggi pada 10 Juni 1952, Ristawardi tumbuh dalam kultur Minangkabau yang kental. Gelar adatnya menegaskan perannya sebagai tokoh dihormati dalam masyarakat.

Dalam ceramahnya, ia merangkai ayat dan hadis dengan pepatah Minang, menekankan filosofi “karambia” dan prinsip “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah,” sehingga pesan dakwahnya terasa dekat, mudah diterima, dan mengakar dalam budaya lokal.

PT Semen Padang pun mendukung pengkaderan mubaligh di Sumatera Barat, seperti pelatihan yang diikuti Zhafrul Jamal, Yohannis, Sensurianus, Warmen Jamil, dan Marwan Bermawi. 

“Seluruh biaya pelatihan ditanggung perusahaan. Dukungan ini memperkuat komitmen kami terhadap pengembangan mubaligh,” ungkap Buya Ristawardi.

Sekretaris Perusahaan PT Semen Padang, Win Bernadino, menekankan kebanggaan perusahaan memiliki sosok seperti Ristawardi. 

Kisahnya menunjukkan bahwa kerja keras, integritas, dan spiritualitas dapat tumbuh berdampingan, dan bahwa dari seorang pekerja angkat semen dapat lahir ulama yang menerangi nagari dengan cahaya iman yang tak padam.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update