Jakarta, Rakyatterkini.com — Ancaman mengeringnya Sungai Eufrat diperkirakan akan terjadi pada tahun 2040, sebagaimana disebutkan dalam sejumlah laporan pemerintah.
Fenomena ini juga kerap dikaitkan dengan peringatan yang pernah disampaikan Rasulullah SAW dalam hadis tentang tanda-tanda akhir zaman.
Sungai Eufrat merupakan salah satu sungai besar di kawasan Timur Tengah yang mengalir melintasi Turki, Suriah, dan Irak.
Dalam hadis sahih, Rasulullah SAW bersabda bahwa hari kiamat tidak akan terjadi sebelum Sungai Eufrat mengering dan menyingkap gunung emas yang kemudian memicu perebutan di antara manusia. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim nomor 2894.
Dikutip dari laporan yang dimuat oleh IFL Science, Sungai Eufrat sejak ribuan tahun lalu menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat di wilayah Mesopotamia. Sungai ini memungkinkan berkembangnya pertanian, kota-kota besar, serta peradaban kuno yang dikenal sebagai salah satu yang tertua di dunia.
Namun dalam beberapa dekade terakhir, kondisi sistem sungai Tigris–Eufrat menunjukkan tanda-tanda penurunan yang serius.
Sebuah laporan pemerintah pada tahun 2021 memperingatkan bahwa kedua sungai tersebut berpotensi mengalami kekeringan pada 2040 akibat berkurangnya permukaan air dan meningkatnya kekeringan yang dipicu perubahan iklim.
Pengamatan dari satelit kembar Gravity Recovery and Climate Experiment (GRACE) milik NASA pada 2013 juga menunjukkan penurunan signifikan cadangan air di wilayah tersebut.
Data yang dihimpun mengungkapkan cekungan Sungai Tigris dan Eufrat telah kehilangan sekitar 144 kilometer kubik air tawar sejak 2003.
Peneliti utama studi tersebut, Jay Famiglietti, yang juga ahli hidrologi dan profesor di University of California, Irvine, menyatakan data GRACE menunjukkan penurunan yang mengkhawatirkan terhadap total cadangan air di cekungan sungai tersebut. Bahkan, kawasan ini tercatat sebagai wilayah dengan tingkat kehilangan air tanah tercepat kedua di dunia setelah India.
Menurutnya, penurunan yang sangat tajam mulai terlihat setelah terjadinya kekeringan besar pada tahun 2007. Di sisi lain, kebutuhan air bersih terus meningkat, sementara negara-negara di kawasan tersebut belum memiliki koordinasi yang kuat dalam pengelolaan sumber daya air karena perbedaan penafsiran hukum internasional.
Tekanan terhadap sumber daya air di kawasan itu kini mulai terasa. Jika sistem sungai Tigris–Eufrat benar-benar mengalami keruntuhan, dampaknya diperkirakan akan sangat besar, mengingat jutaan penduduk di Turki, Suriah, dan Irak menggantungkan kebutuhan airnya pada kedua sungai tersebut.
Seiring menurunnya ketersediaan air, perselisihan antarnegara terkait akses terhadap sumber air juga mulai memanas. Perdebatan tersebut bahkan dinilai menjadi salah satu faktor yang menghambat upaya bersama untuk mencari solusi atas krisis air yang semakin mengancam.
Selain berdampak pada sektor lingkungan dan ekonomi, krisis air juga berpotensi memicu masalah kesehatan masyarakat. Laporan yang dipublikasikan dalam British Medical Journal (BMJ) mengungkapkan bahwa kesulitan memperoleh air bersih di Irak telah memicu berbagai masalah kesehatan.
Aktivis iklim sekaligus koordinator lapangan di Asosiasi Pelindung Sungai Tigris di Irak, Naseer Baqar, menyebutkan sejumlah penyakit seperti diare, cacar air, campak, tifus, hingga kolera mulai menyebar di berbagai wilayah Irak akibat krisis air yang berkepanjangan.
Ia juga menyoroti terbatasnya dukungan layanan kesehatan, termasuk ketersediaan vaksin bagi masyarakat. (da*)


