Notification

×

Iklan

Perempuan Palestina Ditahan AS, Dirawat Usai Kejang

Selasa, 10 Februari 2026 | 15:23 WIB Last Updated 2026-02-10T08:23:00Z

Ilustrasi

Jakarta, Rakyatterkini.com – Seorang perempuan Palestina, Leqaa Kordia, yang kehilangan ratusan anggota keluarganya akibat serangan Israel di Jalur Gaza, kini ditangkap oleh petugas imigrasi Amerika Serikat (AS) dan sedang menjalani perawatan medis setelah mengalami kejang di pusat penahanan.

Departemen Keamanan Dalam Negeri AS menyatakan bahwa Kordia mulai dirawat sejak 6 Februari 2026 pukul 20.45 waktu setempat. “Staf medis di Pusat Penahanan Prairieland Alvarado, Texas, melaporkan kepada ICE (Penegakan Imigrasi dan Bea Cukai) bahwa Leqaa Kordia dirawat di Rumah Sakit Texas Health Huguley, Burleson, Texas, untuk evaluasi lebih lanjut setelah mengalami kejang,” bunyi pernyataan resmi, dikutip dari Reuters, Selasa (10/2/2026).

Perempuan berusia 33 tahun itu ditahan sejak awal 2025. Ibunya merupakan warga AS. Penahanan terjadi saat Kordia dipanggil ke Kantor Lapangan Imigrasi dan Bea Cukai Newark, didampingi pengacara, saat proses pengajuan izin tinggal resmi sedang berjalan.

Hingga kini, keluarga dan tim kuasa hukumnya belum menerima informasi terbaru mengenai kondisi kesehatan Kordia. Meski begitu, Departemen Keamanan Dalam Negeri memastikan bahwa ia akan mendapatkan perawatan medis yang memadai.

Amnesty International melaporkan bahwa 175 anggota keluarga Kordia tewas akibat serangan Israel di Gaza sejak akhir 2023.

Menurut pihak berwenang AS, Kordia ditahan karena masa berlaku izin tinggalnya telah habis, dengan visa pelajar yang sudah kedaluwarsa. 

Sebelumnya, pada 2024, Kordia sempat ditangkap setelah mengikuti demonstrasi pro-Palestina di Universitas Columbia. Aksi tersebut juga diikuti beberapa kelompok Yahudi, yang menentang tuduhan bahwa mereka mendukung Hamas. 

Pemerintah AS dianggap keliru menyamakan kritik terhadap serangan Israel dan pendudukan Palestina dengan antisemitisme, sementara upaya advokasi hak-hak Palestina justru dipandang sebagai dukungan terhadap ekstremisme.

Kordia mengungkapkan bahwa ia menjadi target karena aktivitas pro-Palestina dan menggambarkan kondisi fasilitas penahanan sebagai kotor, padat, dan tidak manusiawi.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update