Notification

×

Iklan

Penyintas Banjir Batang Anai Hidup di Huntara Sempit

Sabtu, 21 Februari 2026 | 17:44 WIB Last Updated 2026-02-21T10:44:00Z

Potret Ramadhan Pengungsi di Huntara Batang Anai

Padang Pariaman, Rakyatterkini.com– Banjir bandang yang melanda Sungai Batang Anai pada November 2025 lalu tidak hanya menyisakan lumpur dan puing. Bagi ratusan warga Kabupaten Padang Pariaman, bencana itu merenggut rumah, sawah, ladang, bahkan impian yang dirajut bertahun-tahun.

Kini, di bawah terik matahari Februari 2026, para penyintas harus menempati Hunian Sementara (Huntara) di Kecamatan Batang Anai. Ruang berukuran 4×4 meter itu harus ditempati seluruh anggota keluarga, tanpa dapur, kamar mandi, atau pendingin ruangan. Tempat tidur pun harus dibagi, sementara sekat ruang tidak ada sama sekali. Huntara menjadi saksi bisu perjuangan mereka membangun kembali kehidupan di atas reruntuhan.

Di salah satu sudut Huntara, Monika Ananda Santia (16), siswi kelas 1 SMA Negeri 1 Batang Anai, duduk di lantai semen yang keras. Kamar pribadinya kini hilang, meja belajar tergantikan lantai atau kasur mini orang tua. 

Meski keadaan serba terbatas, Monika berusaha tetap fokus pada pendidikan. Ia ingin meringankan beban orang tua dan menjaga mimpinya menjadi seorang dosen. 

“Dulu saya punya kamar sendiri. Di sini sempit dan panas di siang hari,” ucap Monika lirih. Meski terganggu oleh kondisi pengungsian, prestasinya tetap membanggakan: ia berhasil meraih peringkat enam di sekolah.

Sementara itu, Bukhari (65), kepala keluarga, menatap kosong ke jalan. Mata pencariannya sebagai petani dan pedagang kecil tak lagi menghasilkan. Sawah yang dulu menjadi sumber penghidupan hancur, lapak dagang hanyut terseret banjir. “Nyaris tidak ada satu rupiah pun yang bisa saya hasilkan. Kami butuh modal untuk berdagang, bukan sekadar bantuan makanan,” keluhnya.

Nestapa ekonomi juga dirasakan Susi Suryanti (45) dan Nurhayati (65). Jarak Huntara dari pasar dan sekolah sekitar lima kilometer memaksa Susi mengeluarkan Rp50.000 setiap hari agar anak-anaknya tetap bisa sekolah. 

Sementara Nurhayati terpaksa menghentikan aktivitas berjualan sayur karena jarak, biaya transportasi, dan kondisi fisik yang menua. Kini, pendapatan mereka hanya bergantung pada bantuan dan keluarga.

Eli Hermita (56) menuturkan kisah serupa. Seluruh tabungan hidupnya hanyut bersama puing rumah. Lima anggota keluarganya kini berdesakan di bilik 4×4 meter, berbagi ruang dengan kenangan yang kadang berubah menjadi air mata. “Semuanya habis. Yang tersisa hanya baju dan kendaraan. Sisanya masuk ke dasar sungai,” kenangnya dengan suara serak.

Ramadhan tahun ini terasa berbeda bagi para penyintas. Tak ada dapur luas atau keriuhan ruang tamu lama. Namun, di bilik-bilik sempit itu, doa yang mereka panjatkan sama: memiliki rumah permanen dan modal untuk kembali membangun ekonomi keluarga. 

Mereka tidak meminta kemewahan. Yang mereka harapkan hanyalah kemandirian, bisa menghidupkan dapur dengan keringat sendiri, di bawah atap yang tidak lagi bersifat sementara.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update