Notification

×

Iklan

Pencemaran Cisadane Picu Risiko Kesehatan Kronis

Senin, 16 Februari 2026 | 22:40 WIB Last Updated 2026-02-16T15:40:00Z

Petugas Penegakan Hukum Gakkum Kementerian Lingkungan Hidup memasang plang penyegelan

Jakarta, Rakyatterkini.com – Peneliti dari Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ignasius Sutapa, mengingatkan bahwa pencemaran di Sungai Cisadane akibat tumpahan zat kimia berpotensi menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang bagi masyarakat.

Ignasius menjelaskan bahwa residu pestisida atau metabolit kimia yang menempel pada organisme air bisa mengalami bioakumulasi dan biomagnifikasi. Artinya, zat berbahaya ini dapat berpindah ke predator yang lebih tinggi, termasuk manusia yang mengonsumsi ikan dari sungai tercemar.

“Pencemaran seperti ini tidak hanya menimbulkan efek langsung, tetapi juga dapat berdampak kronis bagi kesehatan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kontaminan dapat mengendap di dasar sungai dan menjadi sumber racun sekunder. Dengan kata lain, meski air permukaan terlihat jernih, zat toksik masih bisa dilepaskan kembali dari sedimen ke air dalam kondisi tertentu.

Dari perspektif kesehatan publik, paparan pestisida bisa terjadi secara langsung, misalnya saat mandi atau mencuci, maupun secara tidak langsung melalui konsumsi air atau ikan yang terkontaminasi. Pestisida tertentu yang bersifat neurotoksik dapat memicu gejala akut seperti mual, pusing, gangguan saraf, bahkan kematian, tergantung dosis paparan.

“Paparan jangka panjang bisa memengaruhi sistem endokrin, merusak organ tubuh, dan meningkatkan risiko kanker,” tambah Ignasius.

Untuk mitigasi sementara, ia menyarankan agar intake air baku PDAM di wilayah terdampak ditutup sementara, kualitas air dipantau secara real-time, dan masyarakat diedukasi untuk tidak menggunakan air sungai sampai dinyatakan aman. Upaya remediasi atau netralisasi juga perlu dilakukan jika sumber pencemaran sudah diketahui.

Ignasius menekankan perlunya langkah jangka panjang, seperti pengawasan ketat terhadap pencemaran bahan berbahaya dan beracun (B3), pembangunan sistem peringatan dini berbasis sensor kualitas air, serta diversifikasi sumber air baku untuk meningkatkan ketahanan. 

Selain itu, rehabilitasi zona riparian sungai menjadi penting agar ekosistem sungai kembali mampu menyaring polutan secara alami.

“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang namun waspada. Jangan gunakan air sungai untuk memasak, minum, mencuci, atau mandi sampai ada pernyataan aman, dan hindari konsumsi ikan dari wilayah terdampak,” tutupnya.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update