Notification

×

Iklan

Hamas Masuki Tahap Akhir Pemilihan Pemimpin Baru

Selasa, 24 Februari 2026 | 03:16 WIB Last Updated 2026-02-23T20:16:00Z

Hamas segera miliki pemipin baru.

Jakarta, Rakyatterkini.com – Seorang pejabat senior Hamas menyampaikan kepada AFP pada Minggu bahwa kelompok Palestina ini tengah memasuki tahap akhir pemilihan pemimpin baru, dengan dua tokoh utama yang bersaing untuk posisi tersebut.

Pejabat itu menjelaskan bahwa Hamas baru-baru ini membentuk kembali Dewan Syura, badan konsultatif yang didominasi cendekiawan agama, sekaligus menyusun biro politik baru.

Sejak serangan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023 memicu perang di Gaza, pasukan Israel telah menewaskan beberapa pemimpin Hamas, termasuk dua mantan kepala gerakan.

“Pemilihan internal di tiga wilayah telah rampung, dan kini kami berada di tahap akhir pemilihan kepala biro politik,” ujar pejabat anonim tersebut, yang tidak berwenang berbicara secara publik, sebagaimana dikutip Al Arabiya.

Persaingan kini terjadi antara Khaled Meshaal dan Khalil al-Hayya, menurut sumber kedua dari Hamas yang membenarkan informasi tersebut.

Meski gencatan senjata yang dimediasi AS memasuki fase kedua bulan lalu, kekerasan masih berlanjut di Gaza, dengan kedua pihak saling menuduh melanggar perjanjian.

Dalam struktur Hamas, anggota dewan dipilih setiap empat tahun oleh perwakilan dari tiga cabang: Jalur Gaza, Tepi Barat yang diduduki, dan kepemimpinan luar negeri. Tahanan Hamas di penjara Israel juga memiliki hak suara. Dewan kemudian memilih biro politik, yang kemudian menunjuk kepala gerakan.

Seorang sumber Hamas menambahkan, pemimpin baru akan menjabat selama “satu tahun masa transisi.” Ribuan anggota Hamas berpartisipasi dalam pemungutan suara untuk dewan dan biro politik, meski mekanisme pemungutan tidak dijelaskan secara rinci.

“Proses ini bertujuan memperbarui legitimasi internal sekaligus mengisi kekosongan kepemimpinan,” tutur sumber tersebut.

Pemimpin baru akan menghadapi tantangan besar: menyeimbangkan tekanan internasional, khususnya dari Amerika Serikat dan Israel, agar Hamas melucuti senjata, dengan sikap sayap bersenjata gerakan yang terus bertempur di Gaza. 

Hamas sendiri menyatakan akan menyerahkan senjatanya kepada otoritas Palestina di Gaza dengan sejumlah persyaratan.

Khalil al-Hayya, 65 tahun, warga Gaza dan kepala negosiator Hamas dalam pembicaraan gencatan senjata, telah memegang posisi senior sejak 2006 menurut Counter Extremism Project (CEP). Sementara Khaled Meshaal, yang memimpin biro politik dari 2004 hingga 2017, lahir di Tepi Barat dan menjalani sebagian besar hidupnya di luar Gaza, termasuk di Kuwait, Yordania, Suriah, dan Qatar. 

Ia dikenal mengawasi transformasi Hamas menjadi organisasi hibrida politik-militer dan kini memimpin kantor diaspora gerakan tersebut.

Bulan lalu, sebuah sumber Hamas menyebut al-Hayya mendapat dukungan dari sayap bersenjata Brigade Ezzedine Al-Qassem.

Setelah pembunuhan Ismail Haniyeh oleh pasukan Israel di Teheran pada Juli 2024, Hamas menunjuk Yahya Sinwar sebagai kepala Hamas Gaza, yang kemudian tewas dalam serangan Israel di Rafah tiga bulan kemudian. 

Selanjutnya, Hamas membentuk komite kepemimpinan sementara beranggotakan lima orang yang berbasis di Qatar, menunda penunjukan pemimpin tunggal hingga pemilihan selesai demi mengurangi risiko serangan terhadap pemimpin baru.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update