Pessel, Rakyatterkini.com – Tim Kesehatan DPP PDI Perjuangan berhasil menembus Kampung Ngalau Gadang di Kenagarian Limau Gadang pada hari ke-38 pasca-bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera Barat.
Kampung yang terletak di Kecamatan IV Nagari Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan ini sempat terisolasi beberapa hari setelah jembatan beton sepanjang 20 meter yang menghubungkannya dengan Kampung Limau-limau hanyut diterjang banjir pada dinihari 28 November 2025.
“Alhamdulillah, Tim Medis DPP PDI Perjuangan di bawah komando Ketua DPP Bidang Kesehatan, dr. Ribka Tjiptaning, berhasil menembus Kampung Ngalau Gadang setelah melewati perjuangan yang luar biasa,” ujar Ketua PDI Perjuangan Sumatera Barat, Alex Indra Lukman, di Padang, Senin (5/1/2026).
Menurut laporan tim di lapangan, Ngalau Gadang dihuni 168 kepala keluarga (KK) atau 678 jiwa. Sebanyak 46 KK atau 243 jiwa tercatat mengungsi di kantor Camat Bayang Utara akibat rumah mereka mengalami kerusakan berat, hanyut diterjang banjir, tertimpa longsor, atau rusak parah akibat pergeseran struktur tanah sehingga tidak layak huni.
“Setibanya di lokasi, Minggu (4/1/2026), tim yang terdiri dari dokter, perawat, Tim Baguna PDIP, dan kader lainnya langsung memberikan pelayanan medis. Obat-obatan dan vitamin juga disiapkan bagi warga yang membutuhkan,” jelas Alex.
Alex menambahkan, kehadiran tim kesehatan ini merupakan instruksi langsung Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, untuk mendukung penanganan bencana di Sumatera, termasuk Aceh, Sumut, dan Sumbar. “Layanan kesehatan menjadi prioritas karena pemulihan warga di lokasi terdampak berjalan lambat,” tegasnya.
Secara geografis, Ngalau Gadang berada pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut dan berjarak sekitar 150 kilometer dari Kota Padang.
Koordinator Tim Kesehatan PDI Perjuangan, Farid Anshar Alghifari, menceritakan perjalanan menuju kampung ini penuh tantangan. Kendaraan dan ambulans harus ditinggalkan, dilanjutkan dengan mobil pikap, motor, dan berjalan kaki melalui lumpur, jembatan darurat yang hanya bisa dilewati motor, serta jalan setapak di antara reruntuhan bebatuan. Logistik dibawa secara estafet melalui berbagai moda transportasi.
“Selama tiga hari ke depan, tim akan melaksanakan layanan medis, mendistribusikan sembako, dan bergotong-royong bersama masyarakat,” ujar Farid.
Farid menambahkan, semangat tim diuji karena harus melewati jalan yang masih tertutup longsoran dan jembatan darurat dari kayu dengan jurang menganga di sampingnya. “Alhamdulillah, meski perjalanan berat, tim akhirnya bisa sampai dan melayani warga di ‘Nagari di Atas Awan’ ini,” pungkasnya.(da*)


