
Penulis: Monaliza, S.Pd, M.Si.
Guru SMK SMAK Padang
RAMBUT rontok merupakan permasalahan rambut yang banyak dihadapi kebanyakan orang yang disebabkan oleh beberapa faktor yaitu seperti penggunaan produk perawatan rambut yang tidak cocok, stres, dan menggunakan alat styling bersuhu tinggi secara berlebihan.
Selain rambut rontok, ketombe pada kulit kepala dan kulit kepala kering juga merupakan masalah yang umum dirasakan banyak orang. Ketombe tersebut disebabkan oleh mikroba (bakteri atau jamur).
Bila mengalami ketombe, menggaruk kepala secara berlebihan dapat menyebabkan kerusakan kulit, yang selanjutnya dapat meningkatkan risiko infeksi, terutama sekali dari bakteri staphylococcus aureus dan streptococcus.
Menurut cristin et al, (2021) menjelaskan bahwa: “rambut rontok merupakan hal yang wajar terjadi pada manusia selama rambut rontok tersebut terjadi sekitar 40-100 helai tiap harinya”.
Rambut yang panjang akan lebih banyak rontoknya dibandingkan rambut yang pendek dikarenakan rambut kepala yang panjang lebih berat, hingga mengakibatkan tarikan pada rambut yang berlebihan dan kurangnya asupan nutrisi untuk rambut dari dalam maupun dari luar.
Masalah tersebut dapat diatasi dengan berbagai macam cara perawatan. Faktor yang mempengaruhi rambut rusak yaitu internal dan eksternal.
Faktor internal meliputi genetik atau keturunan, mereka yang kekurangan gizi seperti vitamin A, C dan E, mineral seperti zinc, selenium dan lipolytic acid.
Faktor eksternal disebabkan karena seringnya proses kimiawi pewarnaan, pengeritingan, bleaching, pemakaian shampo dan conditioner yang tidak sesuai dengan jenis kulit kepala dan rambut.
Shampo merupakan produk perawatan rambut yang digunakan untuk membersihkan rambut dan kulit kepala dari kotoran maupun minyak yang menempel.
Salah satu tujuan penggunaan shampoo yaitu untuk mengobati masalah rambut rontok. Oleh karena itu banyak berbagai produk shampoo penyubur rambut salah satunya shampoo anti ketombe.
Shampo antiketombe adalah sampo yang memiliki zat aktif yang dapat menghambat pertumbuhan ketombe. ketombe merupakan masalah yang paling umum pada rambut, kondisi ini mengakibatkan timbulnya sisik yang berlebihan di atas sel-sel kulit mati pada kulit kepala.
Ketombe ini disebabkan oleh berkembangnya mikroba seperti jamur atau banteri di kulit kepala yang kotor akibat keringat, kelenjar sebum (minyak), dan debu.
Ketombe pada kulit kepala bisa diatasi dengan menggunakan tumbuhan. Tumbuhan merupakan bahan alami yang dapat digunakan sebagai penyubur rambut di Indonesia sendiri kaya akan bahan alami.
Tumbuh-tumbuhan yang dimaksud seperti lidah buaya (Aloe vera), urang-aring (eclipta prostrata), minyak kelapa, minyak kemiri, serta biji pepaya (carica papaya L) (Wahyu Diana, 2014).
Biji pepaya (Carica papaya L.) merupakan limbah dari buah pepaya yang banyak sekali mengandung manfaat, terutama manfaat pada bagian rambut.
Biji pepaya (Carica papaya L) mengandung senyawa golongan flavonoid, fenol, alkaloid, dan saponin yang berfungsi untuk membantu pertumbuhan rambut (Satriyasa B. K., 2010) dan dapat menghambat pertumbuhan mikroba penyebab ketombe tersebut.
Pembuatan produk shampoo dari biji papaya (carica papaya L)
Mutu shampoo dari biji papaya (carica papaya L)
Dalam parameter uji ini yang di analisis adalah kadar surfaktan, derajat keasaman (pH), aktivitas antimikroba metode difusi cakram dan pengujian viskositas metoda bola jatuh dengan menggunakan standar mutu dari SNI 8860 - 2020 tentang persyaratan Sampo cair.
|
No |
Parameter |
Hasil |
Standar mutu |
|
1. |
Kadar Surfaktan |
16,775 |
Min 5% |
|
2 |
pH |
4,61 |
4 – 9 |
|
3. |
aktivitas antimikroba |
Kuat |
Kuat |
|
4. |
Viskositas |
1079,8 cp. |
400 – 4000 cp. |
Dari tabel diatas dapat dilihat shampoo dari Biji Pepaya (carica papaya L) sudah sesuai dengan SNI 8860-2020.
1. kadar surfaktan yang didapat yaitu 16,775% yang mana sudah sesuai standar SNI 8860-2020 dengan syarat surfaktan pada sampo yaitu minimal 5%. Apabila kadar surfaktan terlalu banyak maka dapat menghilangkan protein dan minyak alami dari rambut, tetapi jika terlalu sedikit maka sampo kurang efektif dalam menghilangkan kotoran pada kepala.
2. pH 4,61 ini merupakan pH yang sesuai untuk sampo. Pengecekan pH pada sampo diperlukan tidak hanya untuk tujuan meningkatkan kualitas sampo, tetapi juga untuk mengatur tingkat pH sehingga tidak merusak kulit kepala dan tidak menyebabkan iritasi pada kulit kepala.
3. Uji aktivitas antimikroba metode difusi cakram, mikroba yang digunakan adalah staphyloccocus aerous dengan memiliki daya hambat kuat.
4. Uji viskositas metode bola jatuh untuk melihat kekentalan dari shampo didapat 1079,8 cp dengan standar 400 – 4000 cp.
Dari data ini penulis berharap pada masyarakat khususnya para remaja agar dapat memanfaatkan limbah dari buah pepaya ini yaitu biji pepaya (carica papaya L) sebagai alternatif untuk shampoo secara alami untuk mencegah rambut rontok dan anti ketombe. (*)



