![]() |
| Kepala BI Sumatera Barat, Mohamad Abdul Majid Ikram saat pertemuan |
Padang, Rakyatterkini.com – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sumatera Barat memperkirakan inflasi di provinsi ini sepanjang 2025 akan berada di atas sasaran nasional. Tekanan utama berasal dari kondisi cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi yang terjadi sepanjang tahun.
Kepala BI Sumatera Barat, Mohamad Abdul Majid Ikram, dalam media briefing pada Senin (5/1), mengungkapkan bahwa pada November 2025, Sumatera Barat mengalami deflasi bulanan sebesar 0,24 persen, sementara inflasi tahunan tercatat mencapai 3,93 persen.
“Jika dihitung secara kumulatif hingga November, inflasi Sumatera Barat mencapai 3,62 persen, melampaui target inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen,” jelasnya.
Menurut Mohamad, terdapat dua faktor utama yang mendorong inflasi lebih tinggi, yakni kemarau panjang dari Juni hingga September dan bencana hidrometeorologi pada akhir tahun. Kedua faktor ini memengaruhi ketersediaan pasokan serta distribusi barang secara signifikan.
Dampak tersebut terlihat pada harga sejumlah komoditas pangan di beberapa daerah. Cabai merah menjadi kontributor terbesar inflasi tahunan, diikuti oleh emas perhiasan.
Sementara itu, deflasi bulanan terutama disebabkan turunnya harga komoditas hortikultura seperti cabai hijau, cabai rawit, dan kentang. Secara spasial, beberapa daerah seperti Bukittinggi, Dharmasraya, dan Pasaman Barat mengalami deflasi cukup signifikan.
Selain inflasi, BI mencatat perlambatan ekonomi Sumatera Barat pada triwulan III 2025, dengan pertumbuhan sebesar 3,36 persen, lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yang mencapai 3,94 persen.
Perlambatan ini dipengaruhi menurunnya investasi, terbatasnya belanja pemerintah, serta melemahnya kinerja sektor-sektor utama seperti konstruksi, perdagangan besar dan eceran, serta transportasi dan pergudangan.
Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat sepanjang 2025 diperkirakan berada di kisaran 3,33–4,13 persen. Namun, pada 2026, perekonomian daerah diproyeksikan membaik dengan pertumbuhan antara 3,77–4,57 persen, seiring meningkatnya konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah dalam proses pemulihan pascabencana.
Di sisi sistem pembayaran, transaksi digital terus menunjukkan pertumbuhan pesat. Hingga triwulan IV 2025, volume transaksi QRIS meningkat 114,88 persen dan nilai nominalnya naik 81,37 persen, didorong oleh bertambahnya jumlah merchant dan pengguna, serta pergeseran preferensi masyarakat dari transaksi tunai ke digital. (da*)


