Padang, Rakyatterkini.com– Pemulihan ekologi pascabencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera Barat pada akhir November hingga awal Desember 2025 terus dilakukan.
Salah satu langkahnya adalah peluncuran Gerakan Sejuta Pohon untuk Sumatera Barat, yang digagas oleh Yayasan Rumah Aktivis Sejahtera, dengan dukungan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan PT Semen Padang melalui penyaluran 10 ribu bibit kaliandra.
Kegiatan penghijauan ini dipusatkan di kawasan Pemandian Jembatan Sitapuang, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang.
Peluncuran ditandai dengan penyerahan bibit kaliandra oleh Direktur Keuangan PT Semen Padang, Iskandar Z Lubis, kepada Ketua Yayasan Rumah Aktivis Sejahtera, Febriyandi Putra, pada Kamis (22/1).
Acara ini disaksikan langsung oleh Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah, Ketua DPRD Kota Padang Muharlion, serta Pj Sekretaris Daerah Kota Padang Raju Minropa.
Hadir pula Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumbar Tasliatul Fuadi, Kepala Dinas Pertanian Kota Padang Yoice Yuliani, bersama sejumlah komunitas lingkungan, organisasi kepemudaan, mahasiswa, dan pelajar. Setelah penyerahan bibit, kegiatan dilanjutkan dengan penanaman pohon di lokasi acara.
Iskandar Z Lubis menegaskan dukungan PT Semen Padang terhadap gerakan ini. Ia menilai inisiatif Yayasan Rumah Aktivis Sejahtera patut diapresiasi karena mampu menyatukan berbagai pihak dalam upaya penghijauan.
“Kami menghargai langkah Yayasan Rumah Aktivis Sejahtera yang berhasil mengajak berbagai unsur untuk peduli pada bumi. Penghijauan adalah tanggung jawab kita bersama demi generasi mendatang. Kami berharap kegiatan ini memberikan manfaat jangka panjang,” ujar Iskandar.
Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah juga mengapresiasi gerakan ini sebagai bagian dari rehabilitasi lingkungan pascabencana. Ia menyoroti dukungan PT Semen Padang melalui bantuan 10 ribu bibit kaliandra, yang memiliki banyak manfaat dan berpotensi menjadi sumber energi.
Mahyeldi berharap gerakan ini berlanjut dan menjadi inisiatif masif di seluruh Sumatera Barat. Ia juga mengusulkan konsep penghijauan berbasis keagamaan, seperti mewajibkan wakaf minimal dua bibit pohon bagi pasangan calon pengantin.
“Misalnya, setiap pasangan yang akan menikah mewakafkan minimal dua bibit pohon. Hal ini akan kami koordinasikan dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama. Harapannya ini bisa diwujudkan,” jelas Mahyeldi.
Pj Sekretaris Daerah Kota Padang, Raju Minropa, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam penghijauan, khususnya di hulu sungai dan kawasan hutan, sebagai upaya mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.
“Bencana hidrometeorologi sangat terkait dengan kondisi lingkungan dan air. Penghijauan di hulu sungai dan hutan menjadi kunci untuk menekan risiko bencana,” ujarnya.
Ia menambahkan, pascabencana banjir dan longsor, Kota Padang juga menghadapi kekeringan akibat perubahan aliran sungai yang merusak jaringan irigasi dan pasokan air bersih. “Data kami mencatat sekitar 121 titik di Kota Padang terdampak kekeringan,” tambah Raju.
Ketua Yayasan Rumah Aktivis Sejahtera, Febriyandi Putra, menjelaskan gerakan ini dilatarbelakangi bencana ekologis yang terjadi belakangan ini dan menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan alam. Menurutnya, langkah pemulihan Sumbar harus kolaboratif dan berkelanjutan, bukan hanya respons jangka pendek.
“Kita butuh solusi nyata atas bencana ekologis di Sumbar. Karena itu kami mendorong keterlibatan semua pihak—pemerintah, BUMN, swasta, LSM, organisasi kepemudaan, hingga masyarakat—untuk bergerak bersama. Target awal kami satu juta pohon, dan jumlah ini dapat bertambah sesuai partisipasi publik,” ujar Febriyandi.
Pohon yang ditanam tidak hanya berfungsi sebagai tanaman hutan, tetapi juga produktif dan bernilai ekonomi, seperti durian, petai, jengkol, serta kaliandra dari PT Semen Padang. Gerakan ini melibatkan sekitar 20 pihak kolaborator, dengan target penanaman satu juta pohon di tingkat provinsi.
Khusus Kota Padang, target awal 10 ribu pohon dibagi dalam lima segmen wilayah, termasuk Balai Gadang, Batu Busuk, dan Batang Gabung. Penanaman dilakukan secara bertahap sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Lubuk Minturun hingga kawasan pesisir Pantai Padang.
Febriyandi menekankan, Gerakan Sejuta Pohon bukan sekadar seremoni, tetapi diharapkan mendorong lahirnya kebijakan publik agar menanam pohon menjadi bagian dari budaya dan kewajiban sosial. “Menanam pohon harus menjadi budaya, bukan euforia sesaat. Sumatera Barat rawan bencana dari pesisir hingga pegunungan. Tidak ada wilayah yang aman jika lingkungan tidak dijaga,” pungkasnya.(da*)


