Notification

×

Iklan

BI Sumbar Bahas Peluang dan Tantangan Ekonomi 2026

Selasa, 20 Januari 2026 | 04:45 WIB Last Updated 2026-01-19T21:45:00Z


BI Sumbar adakan dialog ekonomi Sumatera Barat 2026

Padang, Rakyatterkini.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat menggelar Dialog Ekonomi Sumatera Barat bertema “Peluang dan Tantangan Ekonomi Sumatera Barat 2026” di Aula Gedung Bank Indonesia Sumatera Barat, Senin (19/1).

Forum ini menjadi ruang diskusi strategis untuk mengulas kondisi perekonomian daerah terkini sekaligus merumuskan arah kebijakan pembangunan Sumatera Barat ke depan. Sejumlah tokoh dihadirkan sebagai narasumber, di antaranya Kepala Bank Indonesia Sumatera Barat Mohamad Abdul Madjid Ikram, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumatera Barat Buchari Bachter, serta Kepala Seksi Keterpaduan Pembangunan Infrastruktur Jalan (KPIJ) Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat, Yulia Rahmadani.

Kepala BI Sumatera Barat, Mohamad Abdul Madjid Ikram, menyampaikan bahwa sejak 2021 laju pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat secara konsisten berada di bawah capaian nasional. Pada 2025, pertumbuhan ekonomi daerah diperkirakan berada pada kisaran 3,33 hingga 4,13 persen, lebih rendah dibandingkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

Menurutnya, perlambatan tersebut dipicu oleh melemahnya kinerja sejumlah sektor utama, seperti pertanian, konstruksi, serta transportasi dan pergudangan. Selain itu, penurunan belanja modal pemerintah daerah turut berdampak signifikan terhadap sektor konstruksi dan industri semen.

“Dari sisi inflasi, pada 2025 Sumatera Barat mencatatkan tingkat inflasi yang relatif lebih tinggi dari sasaran. Cuaca ekstrem, bencana hidrometeorologi, serta gangguan distribusi menjadi faktor utama kenaikan harga sejumlah komoditas pangan strategis,” jelasnya.

Meski demikian, Bank Indonesia memproyeksikan kondisi ekonomi Sumatera Barat akan menunjukkan perbaikan pada 2026. Pertumbuhan ekonomi daerah diperkirakan berada pada rentang 3,8 hingga 4,6 persen, didorong oleh meningkatnya permintaan domestik, penguatan belanja pemerintah, serta percepatan investasi, khususnya di sektor infrastruktur.

Ia menambahkan, sejumlah proyek strategis seperti pembangunan Flyover Sitinjau Lauik, pengoperasian Jalan Tol Padang–Sicincin, serta masuknya investasi di sektor energi dan pariwisata diyakini mampu meningkatkan konektivitas dan efisiensi logistik di Sumatera Barat.

Sementara itu, Ketua Umum Kadin Sumatera Barat, Buchari Bachter, mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat sepanjang 2025 mengalami tren perlambatan. Pada triwulan I, ekonomi tumbuh sebesar 4,66 persen, kemudian turun menjadi 3,94 persen pada triwulan II, dan kembali melemah menjadi 3,36 persen pada triwulan III.

Ia menjelaskan, perlambatan tersebut dipengaruhi oleh menurunnya konsumsi masyarakat, melemahnya daya beli, serta dampak bencana alam pada akhir tahun yang berdampak pada sektor pariwisata dan distribusi logistik. Kondisi ini turut menekan kinerja sejumlah sektor unggulan daerah.

Kendati demikian, beberapa sektor masih menjadi penopang utama perekonomian Sumatera Barat. Sepanjang 2025, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tetap menjadi motor pertumbuhan, disusul sektor industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran, transportasi dan pergudangan, serta jasa lainnya yang mencatat pertumbuhan cukup baik.

Dari sisi dunia usaha, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tetap menjadi tulang punggung perekonomian daerah. Namun, hingga September 2025, penyaluran kredit kepada UMKM mengalami kontraksi seiring meningkatnya kehati-hatian perbankan akibat naiknya rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL).

Di sisi lain, Yulia Rahmadani menjelaskan bahwa tingkat kemantapan jalan nasional di Sumatera Barat hingga Semester II 2025 mencapai 85,50 persen. Meski sejumlah ruas sempat terdampak bencana alam seperti banjir, longsor, dan pohon tumbang, seluruh jalan nasional saat ini telah kembali berfungsi normal.

Melalui sinergi antara pemerintah, Bank Indonesia, pelaku usaha, dan para pemangku kepentingan lainnya, Dialog Ekonomi Sumatera Barat diharapkan dapat menjadi dasar perumusan kebijakan yang efektif untuk mempercepat pemulihan pascabencana sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat yang berkelanjutan pada 2026.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update