Notification

×

Iklan

82 Orang Masih Dicari Usai Longsor di Cisarua

Sabtu, 24 Januari 2026 | 18:30 WIB Last Updated 2026-01-24T11:30:00Z

Petugas gabungan melakukan pencarian korban terdampak longsor

Jakarta,Rakyatterkini.com — Longsor melanda Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (23/1/2026) sekitar pukul 18.00 WIB, menyisakan 82 orang yang masih dalam pencarian. Bencana ini terjadi akibat hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut.

Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) segera mengambil langkah koordinasi untuk mempercepat penanganan darurat mengingat dampak besar yang ditimbulkan.

Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Sabtu (24/1/2026) pukul 13.00 WIB menyebutkan longsor terjadi di dua titik, yakni Pasirkuning RT 05/11 dan Pasirkuda RT 01/10, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua.

Akibat bencana tersebut, sekitar 30 rumah terdampak, melibatkan 34 kepala keluarga atau 113 jiwa. Delapan orang dilaporkan meninggal dunia, 23 berhasil diselamatkan, sementara 82 lainnya masih dalam proses pencarian dan pendataan.

Penanganan darurat dilakukan oleh BPBD Kabupaten Bandung Barat dengan dukungan BPBD Provinsi Jawa Barat, TNI, Polri, serta unsur terkait lainnya. Tim gabungan terus melakukan pencarian korban, pendataan dampak, dan pengamanan lokasi, seiring potensi longsor susulan akibat cuaca yang belum stabil.

Kemenko PMK menekankan prioritas utama pada operasi SAR dengan keterlibatan penuh Basarnas, TNI, Polri, dan relawan terlatih. Percepatan penetapan status Tanggap Darurat Daerah juga didorong untuk mempermudah mobilisasi personel, sumber daya, dan logistik.

“Layanan dasar kemanusiaan, termasuk medis, logistik, dapur umum, air bersih, dan shelter aman bagi warga terdampak, terus diperkuat, dengan perhatian khusus bagi kelompok rentan,” bunyi keterangan resmi yang diterima iNews.

Untuk meminimalkan risiko longsor lanjutan, pemerintah menekankan pengamanan wilayah rawan, pembatasan akses warga ke zona berbahaya, dan koordinasi teknis dengan BMKG serta PVMBG. Pemerintah daerah juga diminta melakukan pendataan cepat dan akurat, dengan laporan perkembangan setiap 6–12 jam.

Dalam hal komunikasi publik, Kemenko PMK menegaskan pentingnya penyampaian informasi satu pintu melalui BPBD dan BNPB untuk mencegah penyebaran hoaks dan kepanikan masyarakat.

Staf Ahli Kemenko PMK Bidang Pembangunan Berkelanjutan, Budiono Subambang, ditugaskan untuk mengoordinasikan penanganan darurat di lapangan, memperkuat sinergi antara pusat dan daerah, serta memastikan kebutuhan warga terdampak longsor terpenuhi dengan cepat dan tepat.

“Kemenko PMK menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban dan berkomitmen untuk terus mengawal penanganan bencana secara terpadu, mengutamakan keselamatan masyarakat serta percepatan pemulihan,” tulis laporan tersebut.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update