Padang Pariaman, Rakyatterkini.com– Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, mencatat sebanyak 38 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah akibat bencana hidrometeorologi yang memicu banjir di sejumlah wilayah pada akhir November 2025.
Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, Tenaga Kerja, dan UKM Padang Pariaman, Hendri Satria, menyampaikan hingga saat ini baru 38 pelaku UMKM yang melaporkan kerugian dan telah masuk dalam pendataan pemerintah daerah.
“Data sementara mencatat 38 pelaku UMKM terdampak. Namun, tidak menutup kemungkinan jumlah tersebut masih bertambah karena ada pelaku usaha yang belum melapor,” ujar Hendri di Parik Malintang, Kamis (18/12/2025).
Ia menjelaskan, kerugian yang dialami masing-masing pelaku UMKM memang tidak terlalu besar secara individu. Namun, jika diakumulasikan, total kerugian mencapai sekitar Rp148 juta. Kerusakan tersebut terjadi akibat cuaca ekstrem yang melanda wilayah Padang Pariaman pada rentang 21 hingga 28 November 2025.
Menurut Hendri, dibandingkan sektor lain, nilai kerugian UMKM relatif lebih kecil. Meski demikian, dampaknya sangat terasa bagi pelaku usaha karena menyangkut modal utama untuk menjalankan usaha sehari-hari.
“Banyak peralatan dagang dan perlengkapan memasak rusak akibat banjir. Padahal, itu adalah modal awal mereka untuk kembali berjualan keesokan harinya,” jelasnya.
Ia menambahkan, angka kerugian tersebut baru mencakup kerusakan pada aspek usaha dan modal, belum termasuk kerusakan rumah maupun tempat usaha yang terendam air dan lumpur sisa banjir.
Meski berada dalam kondisi terbatas, Hendri menyebut sebagian pelaku UMKM tetap berupaya menjalankan aktivitas usaha sebisanya demi memenuhi kebutuhan hidup.
“Oleh karena itu, data UMKM terdampak ini telah kami usulkan ke pemerintah provinsi. Harapannya, ada bantuan yang dapat meringankan beban para pelaku usaha,” katanya.
Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman merilis estimasi sementara total kerugian akibat banjir dan longsor mencapai Rp967,8 miliar. Besarnya angka kerugian tersebut dipicu oleh kerusakan infrastruktur di berbagai sektor.
Tercatat sebanyak 4.842 unit rumah warga mengalami kerusakan, dengan 66 rumah di antaranya hanyut terbawa arus banjir. Kerusakan juga melanda fasilitas umum, meliputi 53 sarana pendidikan, 49 rumah ibadah, dua fasilitas kesehatan, serta dua kantor pemerintahan.
Selain itu, bencana tersebut menyebabkan kerusakan pada 28 ruas jalan, 38 jembatan yang putus atau rusak, serta 68 jaringan irigasi dan bendungan.
Di sektor pertanian, banjir merendam sekitar 1.145 hektare sawah, berdampak pada 426,2 hektare kebun dan ladang, merusak 50 unit tambak dan kolam, serta mengakibatkan lebih dari 14.080 ekor ternak mati atau hanyut terbawa arus. (da*)


