![]() |
| Ilustrasi |
Jakarta, Rakyatterkini.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan pemerintah menargetkan penghentian impor solar mulai 2026. Hal ini seiring beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur.
“Agenda kami pada 2026 adalah tidak melakukan impor solar lagi,” ujar Bahlil di Jakarta, Minggu.
Menurutnya, dengan RDMP Balikpapan yang sudah beroperasi, pasokan solar dalam negeri diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional. Meski demikian, impor masih bisa dilakukan secara terbatas jika pasokan domestik belum sepenuhnya siap.
“Jika pasokan domestik sudah mencukupi, impor tidak diperlukan. Namun bila belum siap dan kebutuhan mendesak, impor sementara bisa dilakukan agar ketersediaan energi tetap terjaga,” jelas Bahlil.
Keputusan ini, tambahnya, akan sangat bergantung pada kesiapan Pertamina dalam mengoperasikan kilang dan mendistribusikan pasokan. Pemerintah pun akan terus mengevaluasi kondisi pasokan di awal 2026.
Selain itu, Bahlil menegaskan pemerintah juga terus mendorong peningkatan kualitas bahan bakar minyak (BBM) jenis solar.
“Upayanya ke arah sana, dan kami akan terus melakukan yang terbaik,” kata Bahlil.
Sebelumnya, Bahlil melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai rencana penghentian impor solar, yang didukung operasional RDMP Balikpapan untuk meningkatkan produksi dalam negeri.
Selain RDMP, pemerintah juga mendorong pengembangan bahan bakar nabati melalui kebijakan biodiesel B50. Kombinasi antara produksi kilang dan implementasi B50 diperkirakan akan menciptakan surplus pasokan solar, membuka peluang bagi Indonesia untuk mengekspor solar di masa depan.(da*)


