Notification

×

Iklan

Malam Pergantian Tahun, Pimpinan DPRD Padang Minta Warga Tidak Menyalakan Kembang Api dan Hura-hura

Rabu, 24 Desember 2025 | 09:07 WIB Last Updated 2025-12-26T02:12:29Z

Malam Pergantian Tahun
Wakil Ketua DPRD, Osman Ayub.

Padang, Rakyatterkini.comPergantian tahun sebentar lagi tiba. Diharapkan pada warga Padang dan sekitarnya tidak hura-hira, karena Sumbar baru saja dilanda bencana. 

Untuk itu, pimpinan DPRD Padang meminta warga tidak melakukan hura-hura dan pesta saat pergantian tahun itu. Warga harus berempati pada masyarakat yang dilanda bencana.

Itu dikatakan Wakil Ketua DPRD, Osman Ayub. Ia mengimbau masyarakat untuk menyambut perayaan tahun baru dengan sikap saling menghormati dan menjunjung tinggi nilai budaya Minangkabau, khususnya di tengah masa pemulihan pascabencana banjir bandang.

Budaya Minang menanamkan nilai empati dan kebersamaan, yang sangat dibutuhkan warga yang masih berduka akibat bencana.

“Budaya Minang mengajarkan kita saling menghargai dan peduli. Saat ini banyak warga kita yang kehilangan rumah dan harta benda. Dalam situasi seperti ini, kita harus menunjukkan empati dan membantu saudara-saudara kita,” ujarnya.

Ia menyoroti sejumlah wilayah yang terdampak parah, termasuk Kecamatan Pauh, Kuranji, Koto Tangah, dan Nanggalo, di mana rumah warga hanyut, infrastruktur rusak, serta sebagian masyarakat masih harus mengungsi.

Osman Ayub meminta para tokoh masyarakat untuk aktif membimbing warga agar perayaan Natal dan Tahun Baru dijalankan dengan bijaksana dan penuh empati.

Dia menekankan perlunya pengaturan pelayanan publik, termasuk transportasi dan pengamanan kawasan wisata, untuk memastikan ketertiban selama libur akhir tahun.

“Pelayanan masyarakat tetap harus berjalan, tapi dengan pengaturan yang jelas dan imbauan agar masyarakat memahami situasi saat ini,” katanya.

Sementara itu, Ketua DPRD Muharlion tidak menginginkan adanya penyelenggaraan pesta kembang api pada malam pergantian tahun, sehingga menjadi momentum bagi masyarakat untuk berempati terhadap bencana alam di Sumatera.

"Harus menunjukkan sikap peduli dan tidak berlebihan ketika wilayah kita sedang berduka," katanya.

Ia menilai, kebijakan tersebut sebagai langkah tepat yang mencerminkan solidaritas nasional di tengah duka akibat bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera.

Menurut dia, larangan tersebut bukan semata pembatasan perayaan, melainkan mengandung pesan moral tentang pentingnya empati terhadap saudara-saudara di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang masih dalam masa pemulihan setelah bencana.

Selain aspek empati, ia  juga menyoroti sisi efisiensi anggaran serta dampak positif terhadap ketertiban umum.

Dengan memusatkan kegiatan perayaan di satu atau dua titik, potensi kerumunan yang tidak terkendali serta sampah sisa perayaan dapat diminimalkan.

Ia berharap, masyarakat dapat memaknai malam pergantian tahun dengan kegiatan yang lebih substantif dan bermanfaat.

"Kami sepakat doa bersama di rumah atau lingkungan masing-masing jauh lebih bermakna untuk menyongsong tahun baru," ujarnya. (adv)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update