![]() |
| Kepala SMA Negeri 8 Padang, Berry Devanda, bersama anggota Dewan Pendidikan Sumbar. |
Padang, Rakyatterkini.com - Terkuaknya kasus dugaan asusila yang melibatkan seorang oknum guru dan mantan murid di salah satu SMA negeri di Padang memicu keprihatinan kalangan pendidik.
Kepala SMA Negeri 8 Padang, Berry Devanda, mengaku meningkatkan kewaspadaan demi melindungi peserta didik dari berbagai potensi ancaman moral dan keselamatan di lingkungan sekolah.
“Sebagai pendidik, saya tentu khawatir jika ada ancaman yang bisa memakan korban siswa. Ini harus menjadi kewaspadaan bersama,” kata Berry Devanda saat menerima kunjungan anggota Dewan Pendidikan (DP) Sumatera Barat di SMA Negeri 8 Padang, Selasa (22/12/2025).
Anggota DP yang diterima Berry adalah, Alfroki Martha, Suindra dan M.Khudri. Kunjungan ini merupakan silaturrahmi peninjauan pasca banjir bandang yang melanda beberapa SMA di Kota Padang.
Sebelumnya DP mengunjungi SMA N 11 Padang Pariaman, di Nagari Batang Anai, Lubuk Alung dan SMA N 12 Padang di Nanggalo.
Dalam kunjungan ke SMAN 8 Padang, anggota DP berdiskusi dengan Berry, salah seorang kepala sekolah muda terbaik di kota Padang. "Ya tentang LGBT sebagai predator yang merusak jiwa anak-anak, ini harus menjadi perhatian serius kita bersama," kata Berry.
Berita ada guru terjangkit homo seks kemudian ditangkap pengurus masjid, saat asusila di wc masjid, menurut Berry bukanlah semata-mata masalah sekolah yang bersangkutan.
"Ini ancaman untuk peserta didik kita secara keseluruhan, kita harus melakukan sesuatu untuk menghentikan berkembangnya LGBT ini di sekolah," ujarnya.
Berry menegaskan sejauh ini di sekolah yang ia pimpin, tidak ada kasus LGBT ini. "Alhamdulillah di sekolah saya sejuah ini tidak ada, tapi tetap kami pantau," ujarnya.
Berry menceritakan, suatu ketika dia menolak seseorang guru yang ingin pindah ke sekolahnya karena dia curiga guru yang bersangkutan gelagatnya memperlihatkan tanda tanda ke arah perilaku menyimpang.
"Saya lihat dia bawa teman laki laki, rambut pirang, pembawaannya kurang lazim, ya saya tolak saja, tak lama terdengar desas-desus dia ketahuan homo," kata Berry.
Berri berkisah dia pernah sekolah di Australia, sambil belajar dia kerja part time jadi cleaning service di sekolah, harus pakai surat bebas LGBT dan narkoba dari kepolisian.
"Di Australia, untuk kerja kuli saja harus pakai surat keterangan tidak ada catatan kriminal, narkoba dan LGBT, bagaimana kalau itu kita adopsi?," katanya.
Mendengar penjelasan Berry, anggota DP merespon positif. "Insya Allah masukan Berry akan kami tindak lanjuti, DP bisa rekomendasi Dinas Pendidikan untuk membangun sistem jaring pengamanan sekolah dari semua perbuatan maksiat termasuk LGBT," kata Suindra. (MK)


