Notification

×

Iklan

Konflik Thailand-Kamboja, 33 Warga Sipil Tewas

Kamis, 18 Desember 2025 | 15:05 WIB Last Updated 2025-12-18T08:05:00Z

Kamboja menuduh Thailand menggunakan bom klaster dalam konflik bersenjata

Jakarta, Rakyatterkini.com – Kamboja menuduh Thailand menggunakan bom klaster dalam konflik perbatasan yang telah berlangsung selama 10 hari. Tuduhan ini muncul di tengah dorongan Bangkok agar Phnom Penh terlebih dahulu mengumumkan dan mematuhi gencatan senjata.

Pemerintah Kamboja meminta Konvensi Amunisi Klaster (Convention on Cluster Munitions/CCM) untuk mengecam dugaan penggunaan senjata tersebut, terutama karena menyasar wilayah sipil. Menurut Kamboja, penggunaan bom klaster melanggar hukum humaniter internasional dan membahayakan keselamatan warga.

Bom klaster dikenal kontroversial karena menyebarkan banyak submunisi sekaligus, dan sisa amunisi yang tidak meledak dapat menimbulkan korban bahkan setelah konflik usai.

Di sisi lain, Thailand menekan Kamboja agar menjadi pihak pertama yang mengumumkan gencatan senjata. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Maratee Nalita Andamo, menegaskan bahwa gencatan senjata hanya dapat dilakukan jika memenuhi syarat dan dapat dipercaya.

“Gencatan senjata harus dimulai oleh Kamboja karena merekalah yang melanggar wilayah Thailand,” ujar Maratee, seperti dikutip Thai PBS, Kamis (18/12/2025).

Thailand juga menuntut kerja sama dari Kamboja untuk membersihkan ranjau darat di perbatasan. Bangkok menuduh Phnom Penh menanam ranjau baru, tuduhan yang dibantah pemerintah Kamboja.

Meskipun Thailand bukan penandatangan Konvensi Amunisi Klaster, Kamboja tetap meminta presiden CCM dan komunitas internasional untuk mengecam dugaan penggunaan bom klaster tersebut.

Sejauh ini, konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja telah menewaskan sedikitnya 33 warga sipil, sementara Thailand melaporkan 19 tentara gugur, termasuk dua korban tambahan yang dilaporkan pada Selasa lalu.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update