Jakarta, Rakyatterkini.com – Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memimpin aksi pembersihan Pantai Muaro Gantiang, Kelurahan Air Tawar Barat, Kecamatan Padang Utara, dari tumpukan kayu hanyut akibat banjir bandang yang terjadi pada 28 November 2025 dinihari.
Kayu-kayu yang menumpuk di pesisir, yang biasanya digunakan nelayan setempat untuk menambatkan perahu, kini dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Teluk Sirih.
“Kolaborasi antara KKP dan PT PLN Indonesia Power UBP Teluk Sirih ini adalah implementasi dari amanah Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah,” ungkap Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, dalam pernyataan tertulis, Selasa.
Alex menekankan, selain pemerintah pusat melalui KKP, pemerintah daerah—baik gubernur, bupati, maupun wali kota juga berpeluang memanfaatkan kayu-kayu hasil hanyut banjir sesuai kebutuhan masing-masing daerah.
“Dengan keterbatasan fiskal daerah, pemanfaatan kayu ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam percepatan pemulihan pascabencana,” jelasnya.
Menurut Alex, kayu-kayu tersebut dapat digunakan untuk berbagai keperluan pembangunan, seperti hunian sementara (Huntara), hunian tetap (Huntap), kusen, pintu, jendela, kuda-kuda rumah, hingga konstruksi jembatan darurat.
“Jenis dan bentuk kayu yang hanyut ini memang sangat potensial untuk dimanfaatkan secara strategis dalam pemulihan pascabencana,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan bahwa apabila kayu tersebut tidak dimanfaatkan oleh pemerintah daerah, harus ada kepastian hukum bagi masyarakat yang ingin menggunakannya.
“Tanpa kepastian hukum, kayu yang saat ini menghambat aktivitas nelayan berpotensi dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” tegas Alex, anggota DPR RI Dapil Sumbar I.
Dirjen Pengelolaan Kelautan KKP, A. Koswara, menegaskan bahwa kegiatan Aksi Bersih Pantai dan Laut di Kota Padang ini merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir pascabencana.
“Kegiatan ini bertujuan memulihkan ekosistem pesisir sekaligus memastikan aktivitas nelayan dan masyarakat pesisir dapat kembali berjalan dengan aman dan berkelanjutan,” ujarnya.
Aksi bersih difokuskan pada penanganan sampah kayu dan material alami lainnya yang terdampar di pesisir dan perairan. KKP melalui Loka Kawasan Konservasi Perairan Nasional (LKKPN) Pekanbaru bekerja sama dengan Unit Pelaksana Teknis (UPT) KKP Sumatera Barat, OPD provinsi dan kota, Operator Survival Island, serta Kelompok Nelayan Pantai Muaro Gantiang.
Sekitar 500 orang terlibat dalam kegiatan yang digelar pada 19 Desember 2025 ini, yang juga diwarnai pemberian bantuan bahan pokok bagi nelayan terdampak bencana.
Bantuan tersebut dikirim KKP melalui Kapal Pengawas Perikanan Orca 05 dan Orca 06 ke daerah terdampak bencana di Sumatera, termasuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Dalam aksi ini, kayu yang memenuhi spesifikasi PLTU Teluk Sirih dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Lubuk Minturun oleh Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang menggunakan dua alat berat.
Selama masa tanggap darurat, Dinas Lingkungan Hidup juga telah membersihkan material kayu di sepanjang pesisir Kota Padang sebagai langkah awal pemulihan lingkungan. (da*)


