Notification

×

Iklan

IDAI Sumbar Tangani Kesehatan Anak Terdampak Banjir

Sabtu, 20 Desember 2025 | 15:23 WIB Last Updated 2025-12-20T08:23:00Z

Foto bersama

Padang, Rakyatterkini.com – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Sumatera Barat melakukan respons cepat terhadap bencana hidrometeorologi yang melanda beberapa wilayah di Sumbar pada November hingga Desember 2025. Fokus utama kegiatan ini adalah layanan kesehatan anak secara menyeluruh, termasuk medis, gizi darurat, serta dukungan kesehatan mental dan psikososial.

Ketua IDAI Sumatera Barat, dr. Asrawati, M.Biomed, Sp.A(K), Subsp.TKPS, FISQua, CIIQA, menekankan bahwa bayi dan balita merupakan kelompok yang paling rentan saat bencana. “Bencana seperti banjir di Kota Padang akhir November lalu berdampak signifikan pada kesehatan anak. Bayi dan balita membutuhkan perhatian khusus terkait gizi, tumbuh kembang, dan kesehatan mental,” ujar dr. Asrawati di Padang, Jumat (19/12).

Layanan diberikan baik di posko pengungsian maupun melalui kunjungan rumah di tujuh kabupaten/kota terdampak, yakni Agam, Pesisir Selatan, Padang Pariaman, Tanah Datar, Solok, Pasaman, dan Kota Padang. Bentuk layanan meliputi pemeriksaan kesehatan, rujukan medis, deteksi dini gangguan tumbuh kembang, skrining gangguan tidur, kecemasan, hingga post-traumatic stress disorder (PTSD) pada anak.

Hingga 16 Desember 2025, tercatat 631 anak telah menerima pelayanan. Kasus terbanyak adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), mencapai 373 kasus atau sekitar 59 persen. Selain itu, ditemukan kasus campak di posko pengungsian Matur, Agam, yang menjadi perhatian karena tingginya risiko penularan.

“Kasus campak ini menegaskan bahwa imunisasi tetap harus menjadi prioritas, bahkan dalam kondisi bencana,” tegas dr. Asrawati.

Selain kesehatan fisik, IDAI Sumbar juga menekankan pemulihan psikologis pascabencana. Melalui kegiatan trauma healing, anak-anak diajak bermain, menggambar, bernyanyi, dan berpartisipasi dalam aktivitas ramah anak, dibimbing oleh orang tua dan relawan terlatih. Di Palembayan, Agam, skrining menunjukkan 65 persen anak mengalami gangguan tidur, sementara beberapa anak mengalami kecemasan yang perlu pemantauan lanjutan.

Dalam aspek gizi, IDAI menerapkan program Pemberian Makan Bayi dan Anak dalam Situasi Darurat (PMBA/IYCF-E). Pendataan menunjukkan sekitar 400 bayi dan balita di pengungsian membutuhkan makanan pendamping ASI (MPASI). “Kami menyiapkan, mengolah, dan mendistribusikan MPASI, sambil memberi edukasi kepada orang tua agar pemberian makan tetap aman dan sesuai usia,” jelas dr. Asrawati.

IDAI Sumbar juga mendorong pembentukan Ruang Ramah Ibu dan Anak (RRIA) di pengungsian. Ruang ini dirancang aman dan nyaman bagi ibu hamil, ibu menyusui, serta anak usia 0–5 tahun, lengkap dengan fasilitas menyusui, MPASI, sanitasi layak, edukasi, dan konseling oleh petugas terlatih.

Meski demikian, IDAI menghadapi kendala seperti terbatasnya obat-obatan untuk penyakit kronis anak, termasuk epilepsi, serta minimnya alat kesehatan di beberapa lokasi. Karena itu, IDAI merekomendasikan penguatan ketersediaan obat di rumah sakit kabupaten/kota dan jaminan layanan kesehatan bagi anak-anak yang kehilangan orang tua akibat bencana melalui koordinasi lintas sektor.

“Respons bencana bagi anak harus terkoordinasi dan berkelanjutan agar dampak jangka panjang dapat diminimalkan,” tutup dr. Asrawati.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update