Padang, Rakyatterkini.com – Bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera Barat (Sumbar) telah menimbulkan kerugian besar, baik korban jiwa maupun kerusakan infrastruktur publik, khususnya jalan dan jembatan yang menjadi akses vital untuk penanganan bencana serta pemulihan ekonomi.
Kepala Dinas Bina Marga, Cipta Karya, dan Tata Ruang (BMCKTR) Provinsi Sumbar, Armizoprades, menyampaikan bahwa sedikitnya 16 ruas jalan provinsi terdampak bencana. Kerusakan yang terjadi beragam, mulai dari badan jalan amblas, bahu jalan rusak, longsor, jembatan rusak parah, hingga ruas jalan tertutup pohon tumbang atau material longsoran.
“Hingga saat ini, hasil pemetaan tim di lapangan menunjukkan terdapat 16 ruas jalan provinsi terdampak dengan 54 titik bermasalah. Rinciannya, badan jalan amblas 11 titik, bahu jalan terban 24 titik, longsor 13 titik, jembatan rusak berat 2 titik, dan pohon tumbang 4 titik,” jelas Armizoprades, Minggu (30/11/2025).
Ia menambahkan, sebagian perbaikan seperti pembersihan pohon tumbang dan sisa longsoran tengah dikerjakan bersama pihak terkait, khususnya pada jalur evakuasi dan distribusi logistik.
Sementara itu, Kepala Bidang Bina Marga Dinas BMCKTR Sumbar, Adratus Setiawan, menyebut pendataan di lapangan masih terus dilakukan. Data sementara menunjukkan total 16 ruas jalan provinsi terdampak dengan 54 titik permasalahan.
Sebagai informasi, berdasarkan Kementerian Pekerjaan Umum, jalan provinsi merupakan jalur kolektor dalam jaringan jalan primer yang menghubungkan ibu kota provinsi dengan ibu kota kabupaten/kota, antar ibu kota kabupaten/kota, serta jalur strategis provinsi.
Adapun 16 ruas jalan yang terdampak antara lain: Mangopoh – Padang Luar; Panti – Simpang Empat; Batas Payakumbuh – Suliki – Koto Tinggi; Pangkalan Koto Baru – Sialang – Gelugur; Palupuah – Pua Gadih – Koto Tinggi; Simpang Koto Mambang – Balingka; Matur – Palembayan; Palembayan – Palupuh; Simp. Gantiang Payo – Batas Tanah Datar – Sumani; Pintu Angin – Labuah Saiyo; Sijunjuang – Tanah Badantuang; Guguak Cino – Sitangkai; Teluk Bayur – Nipah – Purus; Teluk Kabung – Mandeh – Tarusan; Lubuak Sikapiang (Simp. Daliak) – Talu (Simp. Gantiang); dan Lubuak Basung – Sungai Limau.
Adratus menegaskan, data ini masih bersifat sementara karena proses pendataan di lapangan terus berlangsung. Fokus utama saat ini adalah membuka akses jalan untuk jalur evakuasi dan distribusi bantuan, dengan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, TNI/Polri, relawan, hingga masyarakat setempat.
“Di lapangan, kami tidak bekerja sendiri. Semua pihak terkait bergerak bersama untuk memastikan bantuan dan evakuasi berjalan lancar,” pungkasnya.(da*)


