Notification

×

Iklan

Zohran Mamdani Menang, Politik AS Memanas

Selasa, 11 November 2025 | 04:35 WIB Last Updated 2025-11-10T21:35:00Z

Kemenangan Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York

Jakarta, Rakyatterkini.com – Kemenangan Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York menjadi babak baru dalam sejarah politik Amerika Serikat (AS). Sosok berdarah Uganda-India itu bukan hanya mencatat prestasi besar bagi komunitas Muslim, tetapi juga memicu ketegangan politik tajam di Washington.

Politisi Partai Republik menyerukan deportasi dan pencabutan kewarganegaraan Mamdani, sementara Partai Demokrat kompak membela tokoh muda yang mereka anggap mewakili wajah baru keberagaman dan demokrasi modern AS.

Kemenangan yang Mengejutkan Politik Amerika

Politisi Partai Demokrat berusia 34 tahun itu berhasil menumbangkan kandidat independen Andrew Cuomo, yang mendapat dukungan langsung dari Presiden Donald Trump. Hasil tersebut menjadi kejutan besar di dunia politik AS. Namun, euforia kemenangan Mamdani segera diwarnai serangan politik dari sejumlah anggota Partai Republik di Washington DC.

Republikan Gencar Desak Deportasi Mamdani

Beberapa anggota DPR AS dari Partai Republik menuntut penyelidikan terhadap proses naturalisasi Mamdani. Mereka menuduh wali kota kelahiran Uganda itu memiliki rekam jejak yang terkait dengan aktivitas “komunis” dan “teroris”.

“Jika Mamdani berbohong dalam dokumen naturalisasinya, ia tidak layak menjadi warga negara AS, apalagi menjabat sebagai wali kota New York,” ujar anggota DPR AS Andy Ogles, dikutip dari Al Jazeera, Senin (10/11/2025).

Ogles bahkan menuding New York kini “dipimpin oleh seorang komunis yang menganut ideologi teroris” dan menyerukan agar Mamdani “dikirim pulang ke Uganda dengan penerbangan pertama” jika tuduhan itu terbukti benar.

Politisi Republik lainnya, Randy Fine, menambah kontroversi dengan menyebut Mamdani baru tinggal di AS selama delapan tahun — klaim yang kemudian dibantah hasil verifikasi PolitiFact. Lembaga tersebut menyatakan bahwa Mamdani telah bermukim di AS sejak 1998, saat berusia tujuh tahun, dan resmi menjadi warga negara AS pada 2018 setelah memenuhi seluruh prosedur hukum.

Demokrat Nilai Serangan Bermuatan Politik

Tokoh-tokoh Partai Demokrat mengecam keras tuduhan yang dilontarkan Partai Republik. Mereka menilai serangan tersebut bermotif politik dan diskriminatif, bukan persoalan hukum.

“Ini bukan tentang kewarganegaraan, tapi tentang ketakutan terhadap perubahan,” ujar salah satu senator Partai Demokrat. “Ketika seorang Muslim progresif memenangkan jabatan penting di kota terbesar Amerika, sebagian orang di Washington menjadi panik.”

Pendukung Mamdani juga menilai tuduhan tersebut merupakan bagian dari upaya politik untuk menekan kelompok minoritas sekaligus menghidupkan kembali sentimen anti-imigran menjelang pemilu nasional mendatang.

Denaturalisasi: Proses Hukum yang Langka

Dalam sistem hukum AS, pencabutan kewarganegaraan atau denaturalisasi hanya dapat dilakukan melalui keputusan pengadilan federal dan sangat jarang terjadi. Langkah ekstrem ini biasanya diterapkan terhadap individu yang terbukti terlibat dalam kejahatan berat, seperti penipuan besar, kejahatan perang, atau aksi terorisme.

Simbol Politik Baru Amerika

Sebagai putra imigran asal Uganda dan India, Zohran Mamdani kini menjadi simbol kebangkitan politik generasi muda progresif di Amerika. Ia dianggap mewakili perubahan arah politik negeri itu menuju keberagaman dan inklusivitas.

Meski berada di bawah tekanan keras dari kubu konservatif, Mamdani masih memperoleh dukungan luas dari warga New York. Banyak yang melihatnya sebagai perwujudan nyata American Dream — sosok imigran yang berjuang dari bawah hingga akhirnya memimpin salah satu kota paling berpengaruh di dunia.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update