Jakarta, Rakyatterkini.com – Ketegangan antara Pakistan dan Afghanistan yang dipimpin Taliban semakin memuncak setelah putaran perundingan damai di Istanbul berakhir tanpa kesepakatan.
Taliban menuding Islamabad bersikap tidak tulus dan mencoba mengalihkan tanggung jawab kepada Kabul.
Dalam pernyataan resmi yang disampaikan oleh juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, Sabtu (9/11/2025), Afghanistan menyampaikan apresiasi kepada Turki dan Qatar atas peran mereka sebagai mediator dalam perundingan tersebut.
Taliban menegaskan bahwa delegasinya menghadiri diskusi pada 6–7 November dengan itikad baik dan kewenangan penuh, berharap Pakistan dapat menyikapi masalah secara serius dan konstruktif.
Namun, menurut Mujahid, Pakistan kembali menunjukkan sikap tidak kooperatif, dengan mencoba menyerahkan seluruh tanggung jawab keamanan kepada pemerintah Afghanistan dan menolak bertanggung jawab atas keamanan wilayahnya sendiri.
Taliban menekankan bahwa Afghanistan tidak akan membiarkan wilayahnya digunakan untuk menyerang negara lain maupun melanggar kedaulatannya.
“Melindungi rakyat dan tanah Afghanistan adalah kewajiban Islam dan nasional Emirat Islam Afghanistan. Kami bertekad membela wilayah ini dari segala agresi dengan pertolongan Allah dan dukungan rakyat,” tegas Mujahid.
Taliban juga menekankan bahwa hubungan persaudaraan dengan rakyat Pakistan akan tetap terjaga, tetapi kerja sama hanya akan dilakukan dalam batas kemampuan dan tanggung jawab mereka.
Ketegangan kian meningkat setelah Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, mengakui bahwa putaran ketiga perundingan damai di Istanbul berakhir tanpa hasil dan belum ada rencana untuk pertemuan berikutnya.
Sementara itu, Menteri Suku, Perbatasan, dan Urusan Kesukuan Afghanistan, Noorullah Noori, memperingatkan pejabat Pakistan agar tidak menguji kesabaran rakyat Afghanistan. Ia menekankan bahwa jika konflik pecah, seluruh warga Afghanistan, tua maupun muda, siap bangkit mempertahankan tanah airnya.
Bentrokan antara kedua negara bulan lalu menewaskan puluhan orang, menandai kekerasan terbesar sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021. Konflik ini terkait dengan isu keamanan perbatasan dan aktivitas militan, termasuk tuduhan Pakistan bahwa Taliban memberikan perlindungan kepada milisi Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP), yang dibantah oleh Kabul. (da*)


