Notification

×

Iklan

Sawahlunto Tegaskan Pentingnya Deteksi Dini Konflik Keagamaan, Kakankemenag: 'Kepekaan Kunci Kerukunan'

Rabu, 19 November 2025 | 22:25 WIB Last Updated 2025-11-19T15:25:00Z

Kakankemenag: “Kepekaan Adalah Kunci Kerukunan”
Kakanmenag Sawahlunto, H. Dedi Wandra.

Sawahlunto, Rakyatterkini.com - Memperkuat deteksi dini potensi konflik keagamaan kembali menjadi perhatian serius Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Sawahlunto. Dalam kegiatan pembinaan yang digelar di Aula Kemenag Sawahlunto, Selasa (18/11/2025). 

Kepala Kantor Kemenag (Kakankemenag), Dedi Wandra, memberikan materi komprehensif kepada para Kepala KUA, penyuluh agama, dan penghulu.

Di hadapan peserta, Dedi Wandra menegaskan sikap peduli terhadap dinamika yang muncul di tengah masyarakat merupakan fondasi menjaga stabilitas sosial. Ia menekankan bahwa masyarakat adalah unsur paling strategis dalam menjaga kondusivitas antarumat beragama.

“Kita harus peduli terhadap permasalahan apa pun yang dihadapi masyarakat. Bila terjadi persoalan, penyuluh harus mengupayakan penyelesaian terlebih dahulu. Jika belum terselesaikan, dapat melibatkan tokoh agama, pemerintah seperti Kemenag dan FKUB, hingga pemerintah daerah. Bila tetap tidak menemukan solusi, barulah melibatkan aparat, LSM, atau akademisi,” ujarnya.

Dr. Dedi mencontohkan penanganan pada kasus yang terjadi di SMP 2 dan SMP 7 Sawahlunto, di mana para siswa dan lingkungan sekolah mendapat pendampingan langsung dari psikolog Universitas Andalas (Unand) dan Universitas Negeri Padang (UNP). 

Ia menyebut langkah tersebut sebagai bentuk respons cepat dan kolaboratif yang harus menjadi pola dalam setiap potensi konflik keagamaan atau sosial.

Meski tanpa adanya laporan resmi, para penyuluh agama diminta untuk tetap sigap membaca situasi, mengumpulkan informasi, dan melakukan analisis lapangan.

“Peringatan dini dan respons cepat membuat masyarakat merasa pemerintah hadir dan dekat dengan mereka. Kepekaan terhadap masalah masyarakat adalah kunci,” tegasnya.

Dedi juga menekankan toleransi harus dijunjung tinggi dalam kehidupan bermasyarakat, terutama dalam aspek kemanusiaan. Namun ia mengingatkan bahwa toleransi tidak boleh disalahartikan dengan mencampuradukkan ajaran atau praktik ibadah masing-masing agama.

“Perdamaian bukan hanya urusan pemerintah, KUA, atau kepolisian. Kerukunan adalah tanggung jawab semua orang yang hidup di dalamnya. Bila kedamaian dapat dijaga dengan baik, maka terwujudlah baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” tutupnya.

Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Kemenag Sawahlunto untuk terus meningkatkan profesionalisme penyuluh, memperkuat kolaborasi lintas lembaga, dan memastikan kerukunan umat beragama tetap terjaga di kota warisan dunia tersebut. (Benny)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update