Notification

×

Iklan

Polisi Ungkap Bom SMAN 72 Dibeli Online

Jumat, 21 November 2025 | 11:52 WIB Last Updated 2025-11-21T04:52:00Z

Masjid lokasi ledakan di SMAN 72 Jakarta. 

Jakarta, Rakyatterkini.com – Polisi mengungkap asal-usul bahan yang digunakan oleh pelaku, seorang anak berhadapan dengan hukum (ABH), untuk merakit bom yang diledakkan di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading. Diduga kuat, komponen peledak tersebut dibeli secara daring.

“Iya, betul (diduga dibeli online). Karena paketnya memang diterima oleh orang tuanya,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, kepada wartawan, Jumat (21/11/2025).

Menurut Budi, pelaku memberi tahu keluarganya bahwa paket tersebut berisi perlengkapan untuk kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, sehingga keluarga sama sekali tidak menaruh curiga.

“Dia menyampaikan kepada orang tua bahwa barang-barang itu untuk kegiatan ekstrakurikuler. Karena itu, pihak keluarga menyimpannya tanpa rasa curiga,” jelasnya.

Keluarga juga menggambarkan pelaku sebagai sosok yang pendiam, sehingga mereka tidak pernah menyangka ia terlibat dalam peristiwa ledakan di SMAN 72.

“Memang karakternya seperti itu, pendiam,” tambah Budi.

Ledakan terjadi pada Jumat (7/11) saat khotbah salat Jumat berlangsung. Akibat kejadian tersebut, sebanyak 96 orang menjadi korban.

Bahan Peledak yang Digunakan Pelaku

Polisi turut memaparkan rincian bahan peledak yang dirakit siswa tersebut. Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), bahan utama yang terdeteksi adalah potassium chloride.

“Bahan peledak yang kami temukan melalui alat Rigaku teridentifikasi mengandung potassium chloride,” ujar Dansat Brimob Polda Metro Jaya, Kombes Henik Maryanto, saat konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Selasa (11/11).

Petugas juga menemukan serpihan plastik dan paku. Plastik digunakan sebagai pembungkus bom, sementara paku baja dan paku seng berfungsi sebagai pecahan berbahaya untuk menambah daya rusak.

“Paku-paku itu tersebar di area masjid,” kata Henik.

Selain itu, ditemukan empat baterai sebagai sumber tenaga dan sebuah alat pemicu ledakan. Namun, polisi tidak menemukan remote pengendali yang diduga dipakai pelaku.

“Tenaganya menggunakan empat baterai A4, inisiatornya electric match, dan bahan peledaknya mengandung potassium chloride. Sistem pemicunya memakai receiver yang seharusnya dikendalikan melalui remote, namun remote tidak ditemukan di lokasi,” jelasnya.

Henik menambahkan, bom tersebut dikemas dalam jeriken plastik berkapasitas satu liter dengan paku sebagai serpihan.(da*)


IKLAN



×
Berita Terbaru Update